
“Penjualan bunga sangat bergantung pada perayaan dan kondisi musim. Sejak pasca Covid-19 melanda pada tahun 2021, aktivitas jual beli bunga mengalami peningkatan pada hari-hari tertentu karena bunga digunakan peziarah untuk berziarah ke makam Raden Mas Iman Soedjono,” ujar para penjual bunga di kawasan pesarean Gunung Kawi, Jumat (5/12).
Bunga yang dibeli pengunjung biasanya digunakan untuk ziarah ke makam salah satu tokoh yang dihormati masyarakat setempat, yaitu Raden Mas Iman Soedjono,” ujar Via (36), salah satu penjual bunga di area pesarean Gunung Kawi, didampingi Wagini (52) dan Wati (43).
Via menambahkan, “Kami berjualan setiap hari. Pagi mulai pukul 07.00 sampai 11.00, siang pukul 13.00 sampai 15.00, dan malam pukul 18.00 sampai 23.00.” Menurut Wagini (57), pendapatan penjual bunga bervariasi. “Pada hari biasa, penghasilan kami rata-rata sekitar Rp100.000 per hari. Namun saat perayaan hari besar seperti Natal, bulan Suro, Jumat Legi, dan perayaan lainnya, pendapatan bisa mencapai Rp150.000 per hari,” katanya.
Sementara itu, Wati (43) menjelaskan bahwa harga bunga dipengaruhi oleh musim. “Jika musim panas, bunga mudah mekar dan dipanen sehingga harganya lebih murah, sekitar Rp10.000 per pak. Namun saat musim hujan, bunga sulit mekar dan jarang dipanen sehingga harganya bisa naik hingga dua kali lipat,” jelasnya. Mereka mendapatkan bunga dengan cara menanam sendiri, ada pula yang ambil dari petani kemudian dijual kembali.
Setiap harinya penjualan bunga dipengaruhi oleh perayaan hari besar seperti awal puasa, bulan suro, jumat legi dan masih banyak perayaan lainnya. Dan juga pergantian musim yang mempengaruhi harga jual bunga. (Lila/HMJF)
Naskah ini merupakan karya pameran pasca diksar XXXVII HMJF yang telah di sunting kembali untuk kebutuhan laman resmi hmjf.