
Sejumlah pembeli memilih dan mencoba aksesoris di Tio Souvenir, Pasar Besar Malang, Kota Malang. Toko aksesoris dan kerajinan tangan yang telah berdiri sejak 1925 ini masih mengandalkan penjualan langsung, sehingga pembeli dapat melihat dan mencoba perhiasan secara langsung sebelum membeli.
MALANG – Tio Souvenir merupakan toko aksesoris dan kerajinan tangan yang masih beroperasi hingga kini. Toko yang berdiri sejak tahun 1925 ini berlokasi di kawasan Pasar Besar Malang dan dikelola oleh generasi keempat keluarga pemiliknya. Di tengah maraknya penjualan daring, Tio Souvenir tetap mempertahankan sistem penjualan langsung kepada pembeli guna menjaga kualitas pelayanan serta kepercayaan pelanggan, khususnya dalam pembelian perhiasan yang perlu dilihat dan dicoba secara langsung.
Pemilik Tio Souvenir menjelaskan bahwa pada awal berdirinya toko tersebut bernama Juwelier Tio. “Saya kurang tahu tepatnya kapan, tetapi yang pasti toko ini sudah berdiri sejak tahun 1925. Dengan nama Juwelier Tio dimana Juwelier itu artinya toko perhiasan dalam bahasa Belanda, sedangkan Tio adalah nama keluarga kami,” ujarnya. Seiring perkembangan usaha dan perubahan jenis barang yang dijual, nama toko kemudian diubah menjadi Tio Souvenir agar lebih mencerminkan ragam produk yang ditawarkan, mulai dari perhiasan perak hingga berbagai produk kerajinan tangan.
Toko tersebut juga menyesuaikan jenis dagangan dengan tren yang berkembang di kalangan anak muda. “Pasti kami mengikuti tren, sekarang anak muda lebih suka perhiasan seperti gelang dan kalung dari bahan stainless atau monel karena modelnya simpel dan harganya terjangkau,” ujar pemilik toko Tio Souvenir (52). Menurutnya, penyesuaian tersebut dilakukan agar toko tetap relevan dengan selera generasi muda.
Barang-barang yang dijual di toko ini diperoleh dari sejumlah pengrajin dan distributor lokal. “Barang-barang kami ambil dari pengrajin dan distributor lokal, untuk blangkon dan wayang banyak diperoleh dari Jawa Tengah sampai Jawa Barat,” ungkapnya. Rentang harga yang ditawarkan pun cukup beragam, mulai dari Rp4.000 hingga Rp1.000.000 ke atas.
Pemilik Tio Souvenir mengakui bahwa harga yang ditawarkan di tokonya tidak selalu menjadi yang paling murah dibandingkan pedagang lain. “Kami memang bukan yang paling murah, tapi kualitas barang kami pastikan bagus,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa strategi utama dalam menjalankan usaha sejak dulu adalah bersikap jujur kepada pelanggan dengan menjelaskan kelebihan maupun kekurangan produk, memberikan pelayanan yang ramah, serta menyediakan garansi perbaikan selama masih memungkinkan.
Maraknya penjualan secara daring diakui turut berdampak pada penghasilan para pedagang di Pasar Besar Malang, termasuk Tio Souvenir. Namun, pemilik toko mengatakan bahwa hingga saat ini ia tidak berminat menjalankan penjualan secara online. “Kalau saya tidak ada niat untuk berjualan secara online karena menurut saya membeli aksesoris itu lebih enak dilihat dan dicoba langsung,” ujarnya
Interaksi langsung antara penjual dan pembeli menjadi faktor penting dalam memastikan kepuasan dan kepercayaan konsumen. “Kalau beli langsung saya bisa lihat dan coba dulu barangnya, jadi lebih yakin dengan ukuran dan kualitasnya,” ungkap Nadiya (18), salah satu pembeli di Tio Souvenir. Menurutnya, cara tersebut membuatnya merasa lebih aman dan puas sebelum memutuskan untuk membeli.
Dengan tetap mengandalkan penjualan langsung, Tio Souvenir berupaya tetap bertahan di tengah perubahan pola belanja masyarakat dan persaingan usaha yang semakin ketat. Konsistensi dalam menjaga kualitas produk, kejujuran kepada pelanggan, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan tren menjadi kunci usaha keluarga ini bertahan hingga generasi keempat. Di tengah arus digitalisasi, toko ini memilih mempertahankan nilai interaksi langsung sebagai ciri khas yang terus dijaga sejak berdiri hampir satu abad lalu. (Aulia/HMJF)
Naskah ini merupakan karya pameran pasca diksar XXXVII HMJF yang telah di sunting kembali untuk kebutuhan laman resmi hmjf.