Tanggapan Warga Lokal Kayutangan Heritage Mengenai Keramaian Wisatawan Yang Mengubah Kampung Mereka

Aktivitas warga dan wisatawan saat menyusuri gang di kawasan Kayutangan Heritage, pada sore hari. Kawasan ini sekarang menjadi wisata sejarah yang menghidupkan ekonomi masyarakat lokal.

MALANG – Kawasan Kayutangan Heritage kini telah berubah menjadi ikon wisata baru di Kota Malang. Namun, di balik gemerlap lampu estetik dan riuhnya musik jalanan setiap malam, terdapat ratusan warga lokal yang harus beradaptasi dengan perubahan drastis di lingkungan tempat tinggal mereka.

Sejak Pemerintah Kota Malang meresmikan kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah pada tanggal 22 April 2018, suasana di Jl. Jenderal Basuki Rahmat hingga masuk ke dalam pemukiman tidak pernah lagi sepi. Warga yang dulunya menjalani hidup dengan tenang di kampung, kini setiap hari harus berpapasan dengan ribuan wisatawan yang datang dari berbagai daerah untuk sekedar berfoto atau nongkrong.

Menyikapi hal ini, warga lokal menunjukkan reaksi yang beragam. Sebagian besar warga mulai menangkap peluang ekonomi dengan mengubah teras rumah mereka menjadi kedai kopi atau toko suvenir. Namun, isu privasi dan kenyamanan tetap menjadi tantangan nyata yang mereka hadapi sehari-hari.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kayutangan Heritage, Mila (44), menjelaskan bahwa warga terus belajar untuk hidup berdampingan dengan industri pariwisata. “Kami menyadari perubahan ini tidak bisa dihindari. Awalnya warga memang kaget dengan keramaian yang ada, tapi sekarang kami fokus bagaimana supaya warga tidak jadi penonton saja, melainkan juga mendapat manfaat ekonomi dari tamu yang datang,” ujar Mila.

Di sisi lain, kenyamanan tinggal di pemukiman padat yang kini menjadi objek wisata menjadi catatan tersendiri bagi warga senior. Budi (55), salah satu warga yang telah tinggal puluhan tahun di Kayutangan, merasa ada privasi yang hilang. “Dulu kalau sore kita bisa duduk santai di depan rumah dengan tenang. Sekarang, depan pintu aja sudah banyak orang asing yang foto-foto. Kadang sampai masuk ke area pribadi. Sebenarnya senang karena kampung jadi bagus,

tapi ya lelah juga dengan bisingnya sampai malam,” ungkap Budi.

Pemerintah Kota Malang sendiri terus berupaya melakukan evaluasi terkait manajemen keramaian dan parkir agar tidak mengganggu aktivitas harian warga. Hubungan antara kenyamanan tempat tinggal dan keberlanjutan wisata menjadi kunci utama agar identitas asli Kampung Kayutangan tidak hilang ditelan modernitas pariwisata. (Intana/HMJF)

Naskah ini merupakan karya pameran pasca diksar XXXVII HMJF yang telah di sunting kembali untuk kebutuhan laman resmi hmjf.

About the Author: hmjfunikama

HMJF merupakan salah satu UKM yang ada di Universitas Kanjuruhan Malang. Berdiri sejak 10 Juni 1989. HMJF berkecimpung dibidang Fotografi dan Jurnalistik. Sebuah tempat untuk membentuk karkater, kepribadian dan pengembangan bakat, minat, serta kreativitas.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *