
Ciamsi di kawasan Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jumat (5/12/2025). Gedung ini masih berdiri dan difungsikan hingga kini sebagai tempat ritual spiritual yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Ciamsi menjadi ruang bagi peziarah dari berbagai latar belakang kepercayaan untuk memanjatkan harapan dan mencari petuah hidup melalui tradisi yang diwariskan secara turun-temurun
MALANG – Tradisi Ciamsi masih menjadi salah satu praktik spiritual yang dijalankan para peziarah di Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Setiap hari, pengunjung dari berbagai daerah datang untuk memohon petunjuk hidup, mulai dari urusan keberuntungan, jodoh, hingga rezeki. Ritual ini dilakukan dengan mengocok tabung ciamsi hingga keluar satu batang nomor, yang kemudian ditafsirkan melalui syair khusus. Hingga kini, Ciamsi tetap dipercaya sebagai bagian dari warisan spiritual masyarakat setempat.
Ciamsi berada di bawah pengelolaan Yayasan Ngesti Gondo dan telah berdiri sejak awal 1900-an. Wydia (27), Admin Pesarean Gunung Kawi, menjelaskan bahwa pada awalnya Ciamsi merupakan satu kesatuan dengan Klenteng Dewi Kwan Im. “Ciamsi sudah ada sejak tahun 1900-an dan awalnya menyatu dengan Klenteng Dewi Kwan Im,” ujarnya, Jumat (5/12/2025). Keberadaan Ciamsi menjadi bagian penting dari aktivitas spiritual di kawasan Gunung Kawi.
Perubahan besar terjadi pada tahun 1960 seiring diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1960. Heru (75), penjaga Ciamsi, menjelaskan bahwa aturan tersebut melarang penggunaan tulisan Tionghoa. “Tulisan Cina tidak lagi diperbolehkan, sehingga Ciamsi harus dipisahkan dari Klenteng Dewi Kwan Im,” jelasnya. Sejak saat itu, Ciamsi berdiri sendiri hingga sekarang.
Menurut Heru, fungsi Ciamsi pada masa lampau berbeda dengan praktik yang dikenal saat ini. Dahulu, para pengikut Mbah Jugo dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono yang menganut ajaran Tridharma datang ke Ciamsi bukan untuk mencari petuah hidup. “Dulu mereka mencari ilmu kebal untuk melawan penjajah,” ungkapnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Ciamsi memiliki nilai historis yang kuat dalam perjalanan spiritual Gunung Kawi.
Hingga kini, kepercayaan terhadap petunjuk Ciamsi masih bertahan di tengah masyarakat. Dodi (47), warga asli Gunung Kawi, mengaku pernah mencari petuah melalui Ciamsi. “Saya pernah meminta petunjuk tentang jodoh lewat Ciamsi,” tuturnya. Meski telah berusia lebih dari satu abad, Ciamsi tetap beroperasi dan mempertahankan 60 syair asli yang tidak pernah mengalami perubahan. (Firdaus/HMJF)
Naskah ini merupakan karya pameran pasca diksar XXXVII HMJF yang telah di sunting kembali untuk kebutuhan laman resmi hmjf.