Berburu Uang Kuno di Comboran, Kolektor Incar Seri 500 Bergambar Monyet

Bambang (68) memilah lembaran-lembaran rupiah lama di Pasar Loak Comboran, Malang, Minggu 25 Januari 2026. Koleksi tersebut menjadi incaran mulai dari kolektor hingga anak muda yang datang mencari barang unik dan bernilai sejarah. (Yuke/HMJF)

MALANG – Setiap Minggu selalu menjadi hari paling ramai di Pasar Loak Comboran, Kota Malang. 

Sejak matahari baru naik, lorong-lorong yang dipenuhi lapak motor tua, helm bekas, knalpot, hingga koper jadul sudah dipenuhi pengunjung.
Suara tawar-menawar bercampur dengan derit besi dan aroma oli yang khas, menjadikan pasar ini seperti museum hidup barang-barang yang pernah berjaya di masanya.

Di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu lapak yang tidak menjual suku cadang atau perabot bekas, melainkan lembaran-lembaran uang yang sudah tak lagi berlaku. 

Plastik-plastik mika bening berisi uang kertas lusuh itu memantulkan cahaya matahari pagi. 

Sebagian warnanya pucat, sebagian lain tampak seperti baru keluar dari dompet tempo dulu.

Bambang (68) dengan topi lusuh tampak sibuk melayani pembeli. 

Bambang, warga asli Klayatan, Kota Malang itu kolektor sekaligus penjual uang kuno yang sudah menggeluti profesinya sejak 1994. 

Tangannya lincah membuka album-album uang kertas sambil sesekali tersenyum kepada pengunjung yang baru datang.

Menurut Bambang, dari semua uang yang ia jual, uang kertas Rp 500 keluaran 1957 bergambar monyet adalah yang paling langka sekaligus paling banyak dicari. 

Ia mengambil satu lembar dari plastik dan mengangkatnya ke arah cahaya. 

“Yang ini sekarang lagi dicari. Kalau di YouTube bisa dibilang laku puluhan juta,” katanya terkekeh, Minggu 25 Januari 2026.

 “Padahal di sini paling cuma belasan ribu. Nggak tahu ya, di YouTube itu kayaknya untuk konten saja.” Tambahnya.

Bambang mendapatkan koleksi-koleksi itu dari banyak jalan, mulai dari kolektor lama hingga barter dengan orang-orang yang spontan datang ke pasar. 

“Kadang ada yang baru tahu kalau uang jadul itu ada harganya. Mereka tanya-tanya, lalu tukar. Ada juga yang nitip jual,” tuturnya.

Untuk menentukan nilai, Bambang tak hanya mengandalkan usia uang. Ia membuka sebuah katalog yang terlihat sudah sering dibaca. 

“Ada katalog harganya, tapi juga lihat kondisi. Kalau kertasnya masih halus dan warnanya masih bagus ya bisa mahal. Kalau kusut atau ada noda coklat-coklat, ya turun. Kalau koin dilihat dari mulus atau tidak, semakin langka ya semakin naik.” Urai Bambang.

Kecintaannya pada uang kuno rupanya bermula dari sebuah kebetulan. 

Bambang menceritakan saat hendak menjual barang bekas kepada pemasok, sebelum diserahkan, ia harus membongkar sampul buku-buku agar harganya lebih tinggi. 

“Pas buka salah satu buku gambar, itu ada uang-uang kuno ditempel. Saya lihat, wah ini barang antik. Buku itu nggak jadi saya loakkan,” katanya sambil tersenyum mengenang. 

Sejak itu ia mulai berburu dari pasar bekas, kolektor, hingga platform Facebook. “Zaman sekarang HP memudahkan lah,” tambahnya.

Kecintaan Bambang terhadap uang kuno tidak berhenti pada berdagang. Ia bahkan merangkai peta Indonesia seberat satu ton dari koin kuno yang Ia kumpulkan dan kini dipajang di rumahnya.

 “Namanya hobi ya. Senang saja ngumpulin,” ujarnya.

Untuk perawatan, Bambang menyarankan agar uang kertas dipress mika atau dimasukkan ke album, sementara koin disimpan dalam wadah plastik berbentuk lingkaran. 

“Biar awet dan nggak rusak,” katanya.

Bambang berharap geliat pasar loak Comboran tetap terjaga, terutama di tengah gempuran budaya serba baru.

 Ia juga berpesan kepada anak muda agar tidak gengsi dengan barang antik. “Jangan malu sama barang kuno. Selain ada nilai sejarah, uang kuno ini punya nilai ekonomi juga,” pungkasnya. (Yuke/HMJF)

Naskah ini merupakan karya pameran pasca Pendidikan Abr HMJF

About the Author: hmjfunikama

HMJF merupakan salah satu UKM yang ada di Universitas Kanjuruhan Malang. Berdiri sejak 10 Juni 1989. HMJF berkecimpung dibidang Fotografi dan Jurnalistik. Sebuah tempat untuk membentuk karkater, kepribadian dan pengembangan bakat, minat, serta kreativitas.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *