
Pelajar dari Jakarta saat mengikuti kegiatan pembuatan keramik di Kampung Keramik Dinoyo, Kota Malang, Sabtu (10/01/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan kerajinan keramik kepada generasi muda. (Insani/HMJF)
MALANG – Kampung Keramik Dinoyo, Kota Malang, masih menghadapi persoalan regenerasi perajin.
Dari tujuh perajin yang tercatat, hanya enam orang yang masih aktif memproduksi keramik dengan rata-rata usia di atas 50 tahun.
Sementara minat generasi muda untuk meneruskan usaha keramik dinilai masih rendah, kondisi tersebut berdampak pada keberlanjutan produksi keramik di kampung tersebut.
Kampung Keramik Dinoyo telah berkembang sebagai sentra kerajinan keramik sejak tahun 1970-an.
Kampung ini kemudian resmi menyandang nama Kampung Keramik Dinoyo pada 1990-an setelah dikembangkan sebagai kampung tematik di Kota Malang.
Meski aktivitas produksi masih berjalan hingga kini, jumlah perajin keramik di kawasan tersebut terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu.
Suharto (72), salah satu perajin senior di Kampung Keramik Dinoyo, menyebut anak muda saat ini cenderung enggan meneruskan kerajinan keramik.
Menurutnya, sebagian anak muda memilih pekerjaan yang lebih praktis dan tidak menuntut pekerjaan fisik.
“Kalau disuruh bikin keramik sendiri, anak-anak sekarang sudah malas. Mereka tidak mau tangannya kotor, mereka lebih memilih pekerjaan yang praktis,” ujarnya, Sabtu (10/01/2026).
Minimnya keterlibatan generasi muda turut berdampak pada proses produksi.
Ia menilai jika kondisi ini terus berlanjut, keberlanjutan Kampung Keramik Dinoyo sebagai sentra produksi keramik dapat terancam.
Meski demikian, paguyuban perajin berupaya melibatkan anak-anak muda melalui kegiatan pelatihan dan festival, meskipun keterlibatan tersebut belum menyentuh proses produksi secara langsung.
Di sisi lain, keterlibatan generasi muda dari luar kampung masih terlihat melalui program magang.
Takiyudin (19), siswa SMKN 5 Malang jurusan Seni Kriya yang menjalani praktik kerja lapangan di Kampung Keramik Dinoyo mengatakan bahwa kerajinan keramik masih relevan, terutama bagi anak muda yang menekuni bidang seni.
Ia menilai bahwa keramik memiliki nilai ekonomi.
“Untuk anak seni mungkin masih menarik, apalagi keramik itu mahal dan bisa jadi sumber penghasilan. Tapi kalau anak diluar seni mungkin yang minat cuma sedikit,” katanya.
Melalui berbagai kegiatan edukasi dan magang, perajin berharap kerajinan keramik di Kampung Keramik Dinoyo tetap dikenal oleh generasi muda.
Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan kampung keramik tidak hanya sebagai tempat penjualan, tetapi juga sebagai sentra produksi. Keberlangsungan Kampung Keramik Dinoyo ke depan dinilai bergantung pada kesiapan generasi muda untuk melanjutkan tradisi kerajinan keramik tersebut. (Insani/HMJF)
Naskah ini merupakan karya pameran pasca Pendidikan Abr HMJF