
Segaf (70) pemilik perusahaan tenun “Rajin” dan karyanya yang dibuatmelalui mesin penenun kayu di Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Senin (20/10/2025). (Iffani/HMJF)
MALANG – Suara khas penenun terdengar saling berpacu bersahutan dari jauh di Perusahaan Tenun Jl. Dr Soetomo, Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.
Suara yang berasal dari kayu-kayu alat tenun hasil kreasi tangan pintar dalam ruangan yang bergaya zaman bahari itu ada tujuh penenun telah melewati seperempat abad.
Mereka mengisi keseharian untuk menghasilkan berbagai karya sarung tenun.
Saat memasuki ruangan, terlihat beberapa kain tenun baru yang digantung berjejer dalam rak kayu, bersebelahan dengan roda yang digunakan untuk memintal benang sepanjang gedung hingga ujung terisi oleh alat tenun, yang digunakan oleh pengrajin.
Saat tim HMJF datang kelokasi, Senin (20/10/2025) Segaf (70) pemilik perusaaan tenun Rajin menyambut dengan tersenyum dan mengajak tim masuk kedalam gedung tenun.
Usaha turun temurun dari 1940 itu tetap dipertahankan oleh Segef selaku generasi kedua.
Pria kelahiran 13 Maret 1954 itu tumbuh di tengah gemerlapnya dunia tenun.
Setiap kali pulang sekolah, ia tak pernah melewati gedung tenun tanpa merasa penasaran.
“Saya mesti suka bantu-bantu kalau udah pulang sekolah.” Kata Segaf.
Di dalam gedung tenun ia sering melihat pengrajin tenun yang sibuk menggerakan alat tenun dengan bunyi khasnya yang mengisi kesehariannya.
Seiring berjalannya waktu, Segaf menjadi seorang ahli tenun.
’”Saya dari kecil sampai sekarang sudah di tempat tenun, jadi setelah ayah saya lalau diwariskan ke saya.” ucap Segaf.
Saat depalan saudaranya ditawarkan untuk menjadi penerus, hanya Segaf yang langsung menerima dan hingga saat ini dengan menyalurkan dedikasinya melalui pintalan benang yang dirajut hingga menjadi motif berkualitas.
Perusahaannya kini ada 7 penenun yang ikut serta dalam proses produksi yang dikerjakan dengan manual.
Proses membuat tenun membutuhkan waktu yang cukup lama. Menurut Segaf, sebelum menjadi tenun pada awalnya benang digulung pada sebuah alat roda kayu yang dapat menampung 41 gulungan benang dalam rodanya.
Setelah digulung, benang kemudian diberi corak yang diikat dengan tali rafia agar tidak tercampur dan dicelupkan kedalam pewarna tiga kali agar warna melekat.
Benang yang sudah berwarna dikeringkan dan dipintal lagi baru proses penenunan dimulai.
Saat sudah jadi dilakukan penjahitan yang menyeluruh sisi tenun agar kain tidak mudah terurai.
Tenun yang dihasilkan dijadikan sarung yang bisa dipakai dan digunakan dalam ibadah salat.
“Kebanyakan pelanggan biasanya dari pondok dan pesanan bisa berasal dari sekitar atau luar kota seperti Surabaya dan Semarang.” tuturnya dengan menunjukan beberapa sarung tenun yang baru jadi.
Setiap proses pembuatan sarung diperhatikan dengan rinci untuk menjaga kualitas kain tenun sarung.
Tidak hanya membuat karya tenun, ia juga menjaga warisan dari ayahnya dengan menyalurkan ilmu tenunnya.
Hal ini dilakukan dengan mengajarkan keterampilan kepada banyak orang dari perusahaan tenun lain yang pernah didatangi dari Blitar hingga siswa SMK yang sedang magang.
“Dulu banyak anak SMK magang disini, saya tunjukan dan ajari prosesnya dari awal sampai akhir.” ungkap Segaf.
Motivasi Segaf untuk meneruskan perusahaan Ia dapatkan dari pengalamannya yang diperoleh selama membantu keluarga dalam bidang tenun hingga menjadi pemiliknya saat ini.
Diperusahaan Rajin ini juga terdapat salah satu pekerja yang loyal sejak muda.
Sunarsih (62) bilang bahwa Ia telah mengabdi membuat tenun sejak masih muda.
“Saya sudah bekerja disini sejak umur 18 tahun hingga sekarang dalam membuat sarung tenun” ucapnya. (Iffani/HMJF)
Naskah ini merupakan karya pameran pasca Pendidikan Abr HMJF