
Malang – Rumah Budaya Ratna (RBR) milik keluarga dari mendiang budayawanRatna Indraswari Ibrahim yang berlokasi di Jalan Diponegoro, Kecamatan Klojen, Kota Malang menjadi jujugan bagi kaum muda di Malang.
Mereka datang tidak hanya menikmati secangkir kopi dan makanan, namun juga sebagai ruang kreatif untuk belajar.
Rumah yang saat ini dikelola oleh saudaranya yakni Benny Ibrahim disulap menjadi ruangedukasi budaya dan seni di Kota Malang.
Mengusung konsep perpustakaan dan kafe literasi yang menyasar generasi muda, khususnyaGen Z sebagai ruang aman untuk membaca, berdiskusi, dan berkegiatan budaya membuat RBR sangat ramai dikunjungi.
Pengelola memilih menjadikan Rumah Budaya Ratna sebagai library kafe, yakni perpustakaan dengan suasana santai, tanpa aturan kaku, serta harga yang terjangkau bagi mahasiswa.
“Tempat ini non-profit. Uang dari pembelian minuman digunakan untuk membayar listrik, internet, pelestarian rumah, dan membeli buku baru,” ujar Benny Ketua UmumPengurus RBR. Malang (25/1/2026).
Bangunan bersejarah yang dibangun pada tahun 1912 itu, sebelumnya telah ada dan aktif sebelum Ratna wafat pada 2011. Namun setelah itu mengalami kekosongan aktivitas selama
lebih dari 10 tahun, kebangkitan Rumah Budaya Ratna bermula pada 2020, ketika pemilikrumah kembali ke Indonesia dan menetap di Malang akibat pandemi COVID-19.
Dorongan untuk menghidupkan kembali rumah tersebut semakin kuat pada 2023, saat sahabat-sahabat Ratna datang dengan gagasan mendirikan kembali ruang kebudayaansebagai tempat pertemuan seniman dan budayawan.
Benny Ibrahim menungkapkan meski sempat sepi pada awal pembukaan, jumlah pengunjungmulai meningkat sejak September 2024.
“Tanpa promosi khusus, keberadaan RBR menyebar secara organik melalui unggahanmediasosial pengunjung, seperti TikTok dan Instagram gitu”, ungkap Benny kepada HMJF.
Setiap hari, RBR dikunjungi puluhan mahasiswa, anak muda, hingga aktivis dan buka tanpahari libur.
Daya tarik utama Rumah Budaya Ratna terletak pada ikon Ratna Indraswari Ibrahimsertakonsep ruang aman bagi generasi muda dengan slogan “RBR untuk Gen Z” yang membuat tempat ini menjadi ruang pertemuan lintas generasi antara mahasiswa, sastrawan, budayawan, dan aktivis seni.
Selain itu, RBR hadir sebagai upaya meningkatkan minat baca di tengah dominasi mediasosial dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Benny menegaskan bahwa teknologi bukanlah ancaman, melainkan dapat bersinergi dengankebudayaan untuk memperkuat literasi.
“Dengan adanya Rumah Budaya Ratna, kami hanya meminta satu persen waktu dari generasi muda untuk membaca buku,” tegas Benny.
Keberadaan Rumah Budaya Ratna juga memberi akses literasi bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi. RBR memberikan kemudahan dengan menyediakan bukuseni dan sastra serta bacaan gratis bagi pelajar dan masyarakat umum.
Pengunjung diperbolehkan membaca sambil bernyanyi, atau memainkan alat musik yangtersedia. Konsep ini dihadirkan untuk memberikan ruang ekspresi seni sekaligus menghindarkan pengunjung dari kejenuhan akibat rutinitas akademik dan pembelajaranformal di sekolah atau kampus.
Cici Anisa, salah satu pelanggan RBR mengaku kagum dengan kafe yang menurutnya menawarkan konsep unik.
“Saya sering coba kafe di Malang, tetapi saya baru menemukan kafe bukan sembarangkafe, disini menawarkan lebih dari kafe-kafe yang pernah saya kunjungi. Kafe ini arsitekturnyaunik dari kafe yang lainnya,” ungkap Cici sapaan akrabnya.
“Mereka merawat warisan budaya. Dengan interiornya dipenuhi dengan benda bernilai seni dan memberikan kesan homey sekaligus megah, jadi kalau ditanya tempat ini adalah tempat pelarian yang sempurna dari hiruk pikuk kota saat ini,” tambahnya.
Dengan mengedepankan literasi, seni, serta rasa kekeluargaan, Rumah Budaya Ratna terusmembuka akses pengetahuan bagi masyarakat, khususnya generasi muda di Kota Malang. Keberadaannya diharapkan mampu menjaga semangat membaca dan berkesenian sekaligusmelanjutkan nilai-nilai perjuangan Ratna Indraswari Ibrahim dalam dunia sastra dan kebudayaan. (Fira/HMJF)
Naskah ini merupakan karya pameran pasca Pendidikan Abr HMJF