Petirtaan Nawonggo dan Wedang Tomboan Menjadi Bagian Sejarah dari Warisan Mpu Sindok

Suasana asri Petirtaan Ngawonggo di Tajinan, Kabupaten Malang, (31/05/26) yang diyakini sebagai peninggalan Mpu Sindok, dengan kolam suci berundak yang dialiri oleh sumber air ini menjadi sejarah, ditemani hangatnya wedang khas tomboannya. (Aca/HMJF)

MALANG, HMJF – Petirtaan Ngawonggo menjadi jejak sejarah dari masa pemerintahan Mpu Sindok pada abad ke-10.

Situs suci ini digunakan sebagai tempat pembersihan diri dan pemujaan leluhur. Hingga sekarang tempat ini dilestarikan bersama dengan tradisi wedang tomboannya. Minggu, (31/05/26)

Petirtaan Ngawonggo yang berada di Dusun Nanasan, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, merupakan peninggalan bersejarah dari masa pemerintahan Mpu Sindok.

Beliau adalah sosok raja besar Kerajaan Medang (Mataram Kuno) yang berkuasa sekitar abad ke-10.

Situs petirtaan ini dibangun sebagai kaswangga tempat pembersihan diri sebelum melakukan ritual keagamaan dan pemujaan leluhur. 

“Petirtaan Ngawonggo ini memang peninggalannya Mpu Sindok, beliau memang terkenal di daerah sini dan tempat ini dulunya digunakan sebagai tempat pembersihan diri dan pemujaan leluhur. Jadi, mau dibilang tempat bersejarah ya bersejarah” ujar Suyatno (59), Juru Kunci. 

Selain sebagai tempat ritual, petirtaan ini juga menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Kolam-kolam yang tersusun dari batu andesit berundak ini dialiri oleh sumber air alami dari Sungai Manten.

Air yang mengalir dianggap suci dan digunakan untuk ritual pembersihan diri serta pemujaan leluhur dalam tradisi Hindu-Buddha

 “Sejak dahulu, air di petirtaan ini dipercaya membawa berkah dan menjaga keseimbangan hidup.”Ucap Suyanto.

Selain nilai sejarah, situs ini juga terbilang unik dan terkenal dengan kuliner tradisionalnya.

Wedang rempah khas yang disebut Wedang Tomboan Abang menjadi daya tarik bagi pengunjung. Minuman ini terbuat dari jahe, serai, kayu manis, dan gula merah yang dipercaya menghangatkan tubuh serta menyehatkan.

Aroma rempah wedang khas ini menjadi pelengkap suasana yang tenang di petirtaan, 

“Wedang tomboan abang sudah menjadi bagian dari tradisi kami sejak lama dan akan selalu disajikan untuk tamu yang datang” terang salah satu penjual wedang, Marni (53).

Selain menikmati keindahan Petirtaan Nawonggo, wisatawan menjadikan wedang tomboan abang sebagai tujuan berkunjung.

Minuman rempah ini dianggap mampu menghadirkan suasana tenang sekaligus menambah kesan sakral di tengah lingkungan bersejarah. 

Salah satu pengunjung, Yuyun (48) mengungkapkan, “Wedang rempah di sini rasanya berbeda dari biasanya, seperti lebih segar apalgi aromanya rempahnya yang khas. Rasanya cocok diminum sambil menikmati suasana petirtaan yang tenang.” 

Bagi Yuyun, pengalaman mencicipi wedang tomboan bukan sekedar kuliner tetapi perjalanan mengenal budaya dan sejarah lokal yang hidup di tengah masyarakat setempat. Aca/HMJF

About the Author: hmjfunikama

HMJF merupakan salah satu UKM yang ada di Universitas Kanjuruhan Malang. Berdiri sejak 10 Juni 1989. HMJF berkecimpung dibidang Fotografi dan Jurnalistik. Sebuah tempat untuk membentuk karkater, kepribadian dan pengembangan bakat, minat, serta kreativitas.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *