
Gerbang di foto ini merupakan akses utama menuju makam Eyang Jugo (Kiai Zakariyah), pejuang asal Yogyakarta yang kini dijaga oleh keturunan Eyang Raden Mas Imam Soerjono. Dibangun pada tahun 1971, wisata religi di Gunung Kawi ini telah berusia 54 tahun
MALANG – Pesaren Gunung Kawi hingga kini tetap menjadi magnet utama wisata religi dan budaya bagi pengunjung yang ingin mengenang sejarah perjuangan Eyang Jugo atau Kiai Zakariyah. Tokoh asal Yogyakarta ini melarikan diri dari penjajah ke wilayah Blitar dan memiliki nama samaran Eyang Jugo yang berarti “Satu”. Saat ini, makam tersebut dijaga oleh juru kunci yang merupakan keturunan Eyang Raden Mas Imam Soerjono.
Bangunan bersejarah yang tampak pada gerbang utama ini didirikan pada tahun 1971, yang berarti kini telah menginjak usia 54 tahun. Selain arsitekturnya yang khas, daya tarik utama di lokasi ini adalah keberadaan pohon Dewandaru yang ditanam langsung oleh Eyang Jugo.
Menurut Widya, salah satu pendamping di lokasi, setiap pengunjung yang ingin meneliti atau berkunjung akan diberikan arahan mengenai tata krama serta batasan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berada di area suci. Di sisi lain, para penjual di sekitar area juga merasakan dampak positif dari keramaian peziarah yang memuncak setiap Senin Pahing dan malam Jumat Legi.
Aktivitas di pesaren ini dimeriahkan dengan berbagai upacara adat, mulai dari kirab sesaji hingga pagelaran wayang kulit tasyakuran. Tradisi ini terus dijaga kelestariannya oleh warga sekitar sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang Pesaren Gunung Kawi.. (Nizam/HMJF)
Naskah ini merupakan karya pameran pasca diksar XXXVII HMJF yang telah di sunting kembali untuk kebutuhan laman resmi hmjf.