Intip Kemeriahan Pekan Budaya Bulan Suroh di Gunung Kawi

Pertunjukan Wayang Kulit sebagai bagian dari kemeriahan upacara Budaya Bulan suroh oleh Masyarakat di kawasan Pesarean Gunung Kawi, Wonosari, Kabupaten Malang

MALANG – Masyarakat di kawasan Pesarean Gunung Kawi, Wonosari, Kabupaten Malang, kembali menggelar perayaan bulan Suroh dengan kemeriahan yang khas. Berbeda dengan ritual selametan sederhana pada umumnya, perayaan di sini menjelma menjadi festival budaya besar yang memadukan unsur religiusitas, seni tradisional, dan solidaritas sosial.

Setiap memasuki pertengahan bulan Suroh, tepatnya mulai tanggal 15 hingga akhir bulan dalam kalender Jawa, wilayah Pesarean Gunung Kawi berubah menjadi panggung budaya selama satu minggu penuh. Rangkaian kegiatan adat-spiritual yang di laksanakan setiap bulan suroh [muharram] sekaligus melestarikan tradisi leluhur ini, menarik antusiasme tinggi tidak hanya dari warga lokal, tetapi juga wisatawan manca negara dan domestik.

Rangkaian acara tahun ini menampilkan berbagai atraksi visual dan spiritual yang memukau. Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa agenda utama meliputi arak-arakan ogoh-ogoh, ritual penyegaran agung hingga gunungan jenang yang menjadi simbol rasa syukur. Muhamad Sanusi (70) , salah satu tokoh masyarakat setempat, menjelaskan bahwa keragaman pertunjukan merupakan nyawa perayaan ini.

“Masyarakat sangat antusias menampilkan berbagai kesenian. Ada wayang kulit, seni tari, Reog Ponorogo, hingga jaranan. Selain hiburan, kami juga tetap mengadakan pengajian sebagai bentuk rasa syukur,” ujarnya. Namun, pandemi beberapa tahun lalu sempat memberikan dampak signifikan terhadap skala acara ini. Hal ini dibenarkan oleh Eko Rahmadi (59) , yang sehari-hari bertugas sebagai petugas keamanan (satpam) di wilayah Pesarean.”Dulu sebelum pandemi, suasananya jauh lebih padat dan ramai. Saat pandemi sempat menyepi, namun kini perlahan-lahan mulai bangkit dan ramai kembali karena ini adalah momen penting untuk merayakan bulan Islam,” jelas Eko.

Salah satu fokus utama dalam perayaan kali ini adalah aspek pendakian. Kong Anton(78) , seorang pedagang senior yang telah lama mengamati dinamika di Gunung Kawi, menekankan pentingnya peran anak muda.“Agar budaya ini tidak hilang ditelan zaman, kami sengaja melibatkan anak-anak dan kaum muda dalam setiap proses upacara. Tujuannya agar sifat tetap lestari dan mereka punya rasa memiliki terhadap tradisi ini,” tuturnya.

Sebagai tambahan informasi, Pesarean Gunung Kawi dikenal secara nasional sebagai simbol akulturasi budaya yang kuat antara tradisi Jawa dan Tionghoa. Keberadaan Makam Eyang Jugo (Kyai Zakaria II) dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono menjadikan tempat ini unik, di mana ritual Islami dan kejawen bersanding harmonis dengan ornamen-ornamen khas Tionghoa.

Kegiatan bulan Suro di Gunung Kawi bukan sekadar ritual mistis, melainkan penggerak roda ekonomi kreatif bagi warga lokal melalui sektor perdagangan dan jasa pariwisata yang puncaknya terjadi selama satu minggu penuh di penghujung bulan Suro. (Franklin/HMJF)

Naskah ini merupakan karya pameran pasca diksar XXXVII HMJF yang telah di sunting kembali untuk kebutuhan laman resmi hmjf.

About the Author: hmjfunikama

HMJF merupakan salah satu UKM yang ada di Universitas Kanjuruhan Malang. Berdiri sejak 10 Juni 1989. HMJF berkecimpung dibidang Fotografi dan Jurnalistik. Sebuah tempat untuk membentuk karkater, kepribadian dan pengembangan bakat, minat, serta kreativitas.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *