Di Balik Wisata Religi, Perputaran Ekonomi Tumbuh di Masjid Tiban Turen

Aktivitas jual beli berlangsung di lantai 7 Masjid Tiban, Turen, Kabupaten Malang, sebagai bagian dari kegiatan ekonomi yang tumbuh dari wisata religi. (Yakin/HMJF)

Malang – Masjid Tiban yang berada di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata religi, tetapi juga menjadi pusat perputaran ekonomi bagi santri dan masyarakat sekitar. Aktivitas tersebut terlihat dari keberadaan toko-toko suvenir di lantai tujuh kompleks masjid yang tetap berjalan seiring dengan kegiatan ibadah, Minggu (25/1/2026).

Masjid yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah ini menyediakan ruang usaha berupa toko oleh-oleh yang dikelola santri dan pihak pondok pesantren. Berbagai barang dijual, mulai dari aksesoris, pakaian, hingga makanan dengan harga terjangkau, sehingga menarik minat pengunjung.

Basit (21), salah satu penjaga toko di lantai tujuh Masjid Tiban, mengatakan bahwa ramainya aktivitas jual beli sangat bergantung pada jumlah pengunjung. “Kalau hari biasa kadang sepi, kadang ramai, Mas. Tapi biasanya kalau Sabtu, Minggu, atau libur sekolah itu ramai,” ujarnya.

Menurut Basit, suvenir yang dijual dibanderol dengan harga mulai dari Rp5 ribu hingga Rp50 ribu. Dalam kondisi ramai, pendapatan toko bisa mencapai Rp2 juta hingga Rp3 juta per minggu. “Pendapatan per minggu bisa tembus dua sampai tiga juta rupiah, tergantung ramainya pengunjung,” katanya.

Ia menambahkan, pengelolaan toko mengikuti sistem pesantren dengan skema bagi hasil. Untuk toko yang dikelola santri, sebanyak 25 persen keuntungan disetorkan kepada pondok pesantren. “Untuk sistemnya, 25 persen dari hasil penjualan diserahkan ke pondok pesantren. Sisanya untuk pengelola toko,” jelas Basit. Dana tersebut dimanfaatkan untuk mendukung operasional dan pembangunan pondok pesantren.

Meski aktivitas ekonomi berlangsung, nilai-nilai keagamaan tetap dijaga. Setiap memasuki waktu salat, sebagian besar toko akan tutup sementara. “Kalau sudah waktu salat, biasanya toko-toko tutup dulu. Ibadah tetap yang utama,” tambahnya.

Sementara itu, Risti (30), salah satu pengunjung Masjid Tiban, mengaku datang bersama rombongan untuk berwisata religi sekaligus berziarah. Ia menilai keberadaan toko-toko di dalam kompleks masjid sangat membantu pengunjung. “Enaknya di sini, saya dan peziarah lain bisa langsung beli oleh-oleh atau kebutuhan di dalam area masjid. Harganya juga terjangkau,” tuturnya.

Keberadaan aktivitas ekonomi di Masjid Tiban menunjukkan bahwa fungsi ibadah dan pemberdayaan ekonomi dapat berjalan berdampingan. Dengan pengelolaan yang tertib dan berlandaskan nilai keagamaan, perputaran ekonomi di lingkungan masjid ini menjadi salah satu penopang keberlangsungan pondok pesantren sekaligus memberi manfaat bagi pengunjung dan masyarakat sekitar. (Yakin/HMJF)

Naskah ini merupakan karya pameran pasca Pendidikan Abr HMJF

About the Author: hmjfunikama

HMJF merupakan salah satu UKM yang ada di Universitas Kanjuruhan Malang. Berdiri sejak 10 Juni 1989. HMJF berkecimpung dibidang Fotografi dan Jurnalistik. Sebuah tempat untuk membentuk karkater, kepribadian dan pengembangan bakat, minat, serta kreativitas.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *