Pedagang Ikan Hias Splendid Kota Malang Putar Otak Agar Tetap Eksis

Suasana kios ikan hias di Pasar Splendid, Kota Malang, Minggu (25/01/2026).

MALANG – Pasar Splendid, Kota Malang terkenal dengan pasar hewan, salah satunya di kawasan penjualan ikan. Sejumlah pedagang disana mengeluhkan pendapatan yang menurun dibanding beberapa dekade tahun yang lalu. Hamidah (25), pedagang ikan hias di Pasar Splendid, Kota Malang, mengatakan pendapatan tokonya saat ini lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Meski begitu, usaha yang sudah berdiri sejak 2001 ini masih mampu menghasilkan pendapatan bersih sekitar Rp 1 juta per hari. Untuk bertahan, Ia menjual langsung di pasar dan melakukan pemasaran online. Meski online dirinya mengaku terbatas di wilayah Malang karena risiko ikan mati saat dikirim jarak jauh.

Sebagai pengusaha mikro di bidang perdagangan ikan hias, Hamidah menjalankan tokonya setiap hari dari pukul 8 pagi hingga 5 sore. Ia menjual berbagai jenis ikan hias, seperti glofish, ikan emas, holy, dan manfish. Di antara jenis ikan itu, glofish paling banyak diminati konsumen.  “Glofish itu yang paling sering dicari, hampir setiap hari ada pembelinya,” ujarnya, Minggu (25/01/2026).

Dari sisi pendapatan, Hamidah menyebut  jika pendapatan harian biasanya berkisar antara Rp 1 juta, namun, jumlah itu lebih kecil dibandingkan masa sebelumnya, terutama saat pandemi. Saat itu, minat masyarakat terhadap ikan hias justru meningkat. “Kalau dibandingkan dulu sama sekarang, waktu itu lebih banyak. Saat pandemi malah naik, sekarang justru turun,” katanya. 

Aktivitas jual beli juga dipengaruhi oleh kebiasaan pengunjung pasar dan musim. Pada akhir pekan, pasar lebih ramai, sementara musim hujan membuat pengunjung berkurang. “Paling ramai itu Sabtu dan Minggu, kalau musim hujan biasanya sepi, orang jarang ke pasar,” terangnya.

Dari sisi biaya usaha, Hamidah menjelaskan bahwa kenaikan harga ikan dari pemasok langsung membuat harga jual ke konsumen juga ikut naik. Hal ini dilakukan agar tidak rugi, sekaligus menjaga pelanggan tetap datang. “Kalau harga beli naik, ya harga jual juga naik, kalau tidak naik, bisa rugi,” katanya.

Untuk bersaing dengan pedagang lain di Pasar Splendid, Hamidah menerapkan strategi dengan menawarkan jenis ikan yang tidak selalu tersedia di toko lain. “Saya cari ikan yang beda dari toko sebelah, supaya pembeli punya pilihan lain,” kata Hamidah.

Selain jual langsung, ia juga mulai menggunakan media sosial, khususnya TikTok, untuk promosi dan penjualan. Namun, pembelian online hanya terbatas di Kota Malang karena risiko ikan mati saat dikirim ke tempat jauh. “Kalau kirim jauh takut ikannya mati di jalan. Jadi sekarang cuma menerima pesanan di sekitar Malang saja,” katanya.

Meski menghadapi tantangan dari segi pasar dan biaya, Hamidah masih tetap fokus pada usaha ikan hias dan belum berencana beralih ke jenis usaha lain. “Saya belum kepikiran jualan lain. Masih mau fokus jualan ikan,” tegasnya. Meski pendapatan tidak setinggi sebelumnya, upaya bertahan melalui diferensiasi produk dan pemanfaatan media sosial menjadi strategi ekonomi yang terus diupayakan agar usaha tetap berjalan secara berkelanjutan. (Andik/HMJF)

Naskah ini merupakan karya pameran pasca Pendidikan Abr HMJF

About the Author: hmjfunikama

HMJF merupakan salah satu UKM yang ada di Universitas Kanjuruhan Malang. Berdiri sejak 10 Juni 1989. HMJF berkecimpung dibidang Fotografi dan Jurnalistik. Sebuah tempat untuk membentuk karkater, kepribadian dan pengembangan bakat, minat, serta kreativitas.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *