DI TENGAH MENGUATNYA DOLAR, PEDAGANG PASAR GONDANGLEGI BERTAHAN HADAPI KENAIKAN HARGA

Gerbang masuk Pasar Gondanglegi, Kabupaten Malang, Selasa (2/6/2026). Di tengah aktivitas perdagangan yang tetap berjalan, sejumlah pedagang mengaku mulai merasakan dampak penguatan dolar Amerika Serikat terhadap kenaikan harga barang yang mereka jual. (Iqbal/HMJF)

MALANG —Di balik ramainya transaksi yang berlangsung setiap hari, para pedagang mulai menghadapi tantangan baru akibat menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Kondisi tersebut berdampak nyata pada kenaikan harga sejumlah barang yang dijual di pasar, terutama produk yang bergantung pada bahan baku maupun pasokan dari luar negeri, Selasa (18/5/2026).

Salah satu pedagang aksesoris di Pasar Gondanglegi, Nanik (47), mengatakan bahwa kenaikan harga mulai dirasakan pada beberapa jenis barang yang dipasok oleh distributor. Menurutnya, harga sejumlah aksesoris mengalami penyesuaian dalam beberapa bulan terakhir karena biaya pengadaan barang dari pemasok ikut meningkat. “Sekarang harga aksesori seperti jepit rambut, gelang, dan beberapa barang lainnya naik sedikit demi sedikit. Kata pemasok, harga dari pusat juga naik karena nilai dolar sedang tinggi,” ujarnya saat ditemui di kiosnya.

Menyikapi kondisi tersebut, Nanik menuturkan bahwa sebagian pembeli kini menjadi lebih berhati-hati dalam berbelanja dan tidak sedikit yang memilih mengurangi jumlah barang.

Meskipun demikian, ia tetap berusaha mempertahankan harga agar tetap terjangkau bagi masyarakat sekitar. “Pembeli tetap ada, tetapi kadang mereka memilih yang lebih murah atau mengurangi jumlah belanjaannya. Jadi kami juga harus pintar-pintar menyesuaikan supaya barang tetap laku,” tambahnya.

Selain pedagang, dampak kenaikan harga juga dirasakan langsung oleh para pembeli yang datang ke Pasar Gondanglegi. Salah satunya adalah Siti Aisyah (34), warga setempat yang rutin berbelanja kebutuhan rumah tangga di pasar tersebut.

Menurut Siti, beberapa kebutuhan sehari-hari memang mengalami kenaikan harga dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, sehingga memengaruhi pengeluaran rumah tangganya. “Kalau belanja sekarang memang terasa lebih mahal dibandingkan sebelumnya. Uang yang biasanya cukup untuk membeli beberapa kebutuhan, sekarang harus lebih diperhitungkan lagi,” keluhnya.

Meski demikian, Siti mengaku masih menjatuhkan pilihan untuk berbelanja di pasar tradisional karena harga yang ditawarkan relatif lebih terjangkau dibandingkan toko modern.

Selain itu, keberadaan pedagang yang ramah dan kesempatan untuk melakukan tawar-menawar menjadi alasan tersendiri baginya untuk bertahan. “Kalau di pasar masih bisa pilih barang dan kadang bisa tawar harga. Jadi meskipun ada kenaikan, saya tetap lebih sering belanja di sini,” ungkapnya.

Kondisi yang dirasakan pedagang dan pembeli ini menunjukkan bahwa perubahan ekonomi global tidak hanya berdampak pada pelaku usaha besar, tetapi juga dapat dirasakan hingga ke urat nadi pasar tradisional.

Pasar Gondanglegi yang merupakan pusat aktivitas ekonomi masyarakat Kabupaten Malang tetap bertahan di tengah tekanan tersebut. Bagi para pedagang maupun pembeli, pasar tradisional bukan hanya tempat transaksi jual beli, tetapi juga ruang sosial yang terus hidup dan menjadi bukti bahwa perekonomian rakyat mampu bertahan menghadapi berbagai perubahan zaman. Iqbal/HMJF

About the Author: hmjfunikama

HMJF merupakan salah satu UKM yang ada di Universitas Kanjuruhan Malang. Berdiri sejak 10 Juni 1989. HMJF berkecimpung dibidang Fotografi dan Jurnalistik. Sebuah tempat untuk membentuk karkater, kepribadian dan pengembangan bakat, minat, serta kreativitas.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *