Harus Antar 90 Paket per Hari, Kurir Terjebak Durasi Ketat Sistem Aplikasi

Mukmin Dani Pradana (20) menyortir paket sebelum pengiriman di Kota Malang, Sabtu (30/05/2026). Proses routing dilakukan untuk memastikan paket dikirim sesuai urutan sistem. (Raffael/HMJF)

Malang — Menghabiskan waktu hingga satu setengah jam hanya untuk mencocokkan data aplikasi, lalu menyusuri jalanan demi mengantar 80 hingga 90 paket setiap harinya. 

Itulah realitas tekanan kerja yang harus dihadapi oleh kurir pengiriman paket online di Kota Malang.

Di bawah bayang-bayang batas waktu yang ketat, mereka terikat oleh sistem urutan digital yang kaku dan tidak bisa diantar secara acak, memaksa para pekerja lapangan ini berkejaran dengan waktu demi mengejar target distribusi harian. 

Mukmin (20), kurir Shopee Express di wilayah Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, telah merasakan beratnya ritme kerja ini selama delapan bulan terakhir. 

Ia menjelaskan bahwa setiap pagi, tekanan itu sudah dimulai di kantor lewat proses routing atau pengurutan paket. 

“Kalau paket tidak di-routing dulu di kantor, kami bakal kesulitan di jalan karena alamatnya bisa acak-acakan. Jadi semua harus rapi sesuai alur sistem sebelum dimuat ke motor,” jelas Mukmin, Sabtu (30/05/2026). 

Beban kerja tersebut kian nyata saat Mukmin harus memilah puluhan paket tersebut satu per satu sebelum motornya bisa melaju ke jalanan. 

Proses sinkronisasi manual dengan data di aplikasi mutlak dilakukan agar tidak terjadi kesalahan kirim, “Setiap pagi kami harus memilah puluhan paket ini satu per satu. Proses mencocokkan data ke aplikasi ini cukup memakan waktu lama sebelum kami benar-benar bisa jalan ke area pengiriman,” ungkap Mukmin. 

Mukmin mengatakan berbagai kendala sering muncul saat proses pengiriman. Tantangan mulai dari penerima yang tidak ada di rumah, alamat yang minim petunjuk, nomor telepon yang tidak dapat dihubungi, hingga kendala mesin kendaraan menjadi santapan sehari-hari. 

Tekanan ini akan berlipat ganda saat terjadi lonjakan barang pada momen event bulanan seperti Shopee 6.6 maupun bulan Ramadhan, yang kerap menyisakan tumpukan paket untuk dilanjutkan keesokan harinya. 

Situasi kian diperparah jika jumlah rekan kerja yang bertugas berkurang akibat cuti atau sakit, yang otomatis melimpahkan beban paket ekstra ke pundak kurir yang tersisa hingga memaksa mereka bekerja sampai larut malam. 

Di tengah himpitan sistem aplikasi dan ketidaktahuan konsumen yang sering mendesak agar paketnya didahulukan, Mukmin hanya bisa pasrah sekaligus berharap. 

“Pelanggan belum banyak tahu kalau paket memiliki urutan dan durasi pengirimannya masing-masing, jadi tidak bisa seenaknya meminta paket didahulukan,” ujarnya. 

Ia berharap ke depannya pihak manajemen dapat memberikan kelonggaran waktu saat terjadi lonjakan barang, serta masyarakat bisa lebih memahami dan menghargai prosedur kerja kurir yang sepenuhnya dikendalikan oleh sistem aplikasi. Raffael/HMJF 

About the Author: hmjfunikama

HMJF merupakan salah satu UKM yang ada di Universitas Kanjuruhan Malang. Berdiri sejak 10 Juni 1989. HMJF berkecimpung dibidang Fotografi dan Jurnalistik. Sebuah tempat untuk membentuk karkater, kepribadian dan pengembangan bakat, minat, serta kreativitas.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *