{"id":1409,"date":"2016-11-27T23:57:22","date_gmt":"2016-11-27T16:57:22","guid":{"rendered":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/?p=1409"},"modified":"2016-11-27T23:57:22","modified_gmt":"2016-11-27T16:57:22","slug":"karya-jurnalistik-pasca-am-filosofi-beda-tipis-kupu-kupu-dengan-kura-kura-by-desi-wijayanti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/?p=1409&lang=id","title":{"rendered":"Karya Jurnalistik Pasca AM \u201cFilosofi \u2013Beda Tipis Kupu &#8211; Kupu dengan Kura &#8211; Kura\u201d by Desi Wijayanti"},"content":{"rendered":"<p>Beda Tipis Kupu-kupu dengan Kura-kura<\/p>\n<p>Kenalkah kalian dengan mahasiswa? Ya, lebih tepatnya mereka yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Mereka yang melakukan kegiatan di kampus sesuai dengan tugasnya menjadi mahasiswa. Pada dasarnya, mereka diharapkan menjadi seorang intelektual. Realitanya sekarang ada dua sifat mahasiswa yang sudah menjadi sebuah kebiasaan. Yang pertama, mahasiswa sehabis kuliah langsung pulang yang lebih dikenal dengan sebutan mahasiswa kupu-kupu. Kedua, mahasiswa kura-kura, mahasiswa ini sehabis kuliah langsung rapat di organisasi kampus.<\/p>\n<p>Mahasiswa kupu-kupu mempunyai alasan tersendiri, mengapa tidak mengikuti organisasi dan rapat di kampus. Seperti Yuyun mahasiswa UNIKAMA, dia memiliki kesibukkan di rumah yakni menjadi guru TK dan guru <em>private. <\/em>Alasan inilah yang melatarbelakangi dia memilih mengais rezeki daripada ikut organisasi. Menurut gadis 19 tahun ini, mengikuti organisasi sangat menguntungkan tetapi di sisi lain juga menghabiskan waktu, hal ini tentu saja tergantung cara kita dalam mengaturnya. Meski tidak mengikuti organisasi, namun Yuyun sanggup mengerjakan proposal yang <em>notabene<\/em>nya pekerjaan anak organisasi \u201cSaya pernah bertanggungjawab mengajukan proposal bantuan yang ditujukan kepada Gubernur\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sepemikiran dengan yuyun, \u00a0Hesti (24) juga memilih untuk tidak mengikuti rapat di organisasi. Setelah kuliah dia jualan <em>online,<\/em> kemudian mengantar barang pesanan kepada pelanggan. \u201cbagi saya organisasi itu penting, tapi lebih penting lagi cari nafkah, toh itu juga sekalian nerapin ilmu waktu kuliah\u201d jelas wanita yang sudah mempunyai satu anak ini.<\/p>\n<p>Mahasiswa setelah kuliah rajin rapat ada dua, rapat dengan niat atau rapat syukur datang. \u201cikut rapat itu kudu niat, jadi kelak bisa bermanfaat dan mendatangkan peluang. Kalo rapat cuma sekedar datang kan jadinya ga dapet apa-apa\u201d ungkap Juanah (21), wakil ketua pelaksana Temu Akrab\u00a0 HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Study) Ekonomi 2015. Ada juga yang aktif rapat UKM dan HMPS, Anis salah satunya. Sehabis kuliah dia langsung rapat HMPS dan melanjutkan rapat UKM (Unik Kegiatan Mahasiswa) GARANK (Gerakan Mahasiswa Anti Narkoba). \u2018sebagai sie acara, saya bersama rekan harus memikirkan konsep kegiatan dengan matang agar kegiatan berjalan lancar, dan itu sangat menguras pikiran \u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Mahasiswa tidak aktif di organisasi, Mukarromah (17) mengatakan \u201cdulu saya aktif Mbak di HMPS tapi saya berhenti, tanggung jawabnya terlalu berat. Sekarang malah sedikit nyesel soalnya ga ada kegiatan lagi setelah kuliah, ga dapet ilmu juga\u201d. Lain dengan Istiqomah (21), sehabis kuliah langsung pulang bahkan dia tidak pernah ikut organisasi satu pun. \u201cjangankan rapat mbak, ikut organisasi aja enggak\u201d tuturnya. Hal ini terjadi karena dia memilih untuk pulang setiap minggu. \u201dTapi sekarang saya ikut Al-Farabi Mbak, baru aja diklat.\u201d Tuturnya.<\/p>\n<p>Menurut dosen Bimbingan Konseling Ch. Erghiezha Ninuk Indrati, M.Psi. menyatakan bahwa kupu-kupu dengan kura-kura bedanya bisa dilihat dari segi pemikiran, kura-kura memiliki pemikiran yang lebih di bidang organisasi dan mahasiswa kupu-kupu memiliki pemikiran yang lebih di bidang akademik. Kura-kura meski tidak semua, terkenal lama lulus kuliah dan kupu-kupu meski juga tidak semua, terkenal lulus kuliah tepat waktu. \u201cjadi mahasiswa mempunyai hak untuk memilih untuk ikut organisasi atau tidak, karena hidup ini sebuah pilihan\u201d tambahnya. Sangat diharapkan bahwa mahasiswa yang patut dicontoh yakni mereka yang mengambil satu organisasi dan tetap belajar setelah kuliah. Untuk generasi selanjutnya mahasiswa harus mempelajari manajemen diri dan manajemen waktu agar sukses setelah dia lulus kuliah.<\/p>\n<h2>Dilansir dari JurnalismExcited A great WordPress.com site, Ini semua tentang pilihan, mahasiswa Kupu-kupu atau Kura-kura, apakah mahasiswa dengan IP 4,00 yang rajin keluar masuk perpustakaan. Mahasiswa yang selalu terkantuk-kantuk di kelas, mahasiswa yang selalu mengikuti rapat atau organisasi. Menjadi mahasiswa adalah pilihan, toh Pemerintah hanya mewajibkan warganya untuk mengenyam bangku sekolah selama 9 tahun. Iya sekolah, ini artinya kita boleh-boleh saja menuntut ilmu sampai bangku kuliah. Ini bukan tentang mahasiswa akademis yang hanya mengejar IP atau mahasiswa yang gemar hura-hura, melainkan tentang bagaimana kita bisa bijaksana dalam menentukan pilihan. Jadi, semua itu tergantung dari pola pikir mahasiswa secara individu. Karena baik mahasiswa kupu-kupu dan kura-kura memiliki sisi negatif dan positif yang keduanya memiliki perbedaan yang tipis jika kita mengetahui realitanya.<\/h2>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beda Tipis Kupu-kupu dengan Kura-kura Kenalkah kalian dengan mahasiswa? Ya, lebih tepatnya mereka yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Mereka yang melakukan kegiatan di kampus sesuai dengan tugasnya menjadi mahasiswa. Pada dasarnya, mereka diharapkan menjadi seorang intelektual. Realitanya sekarang ada dua sifat mahasiswa yang sudah menjadi sebuah kebiasaan. Yang pertama, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10,2],"tags":[],"class_list":["post-1409","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita","category-jurnalistik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1409","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1409"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1409\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1410,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1409\/revisions\/1410"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1409"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1409"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1409"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}