{"id":2532,"date":"2017-11-18T08:12:38","date_gmt":"2017-11-18T01:12:38","guid":{"rendered":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/?p=2532"},"modified":"2017-12-28T08:14:06","modified_gmt":"2017-12-28T01:14:06","slug":"dewandaru-pohon-pembawa-keberuntungan-marieta-ceritoku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/?p=2532&lang=id","title":{"rendered":"Dewandaru, Pohon Pembawa Keberuntungan &#8211; Marieta &#8220;Ceritoku&#8221;"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><strong>D<\/strong><strong>ewandaru, <\/strong><strong>Pohon<\/strong><strong> Pembawa Keberuntungan<\/strong><\/p>\n<p>Pasarehan gunung Kawi yang terletak di desa Wonosari, kabupaten Malang setiap harinya dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai tempat. Mereka mendatangi tempat ini dengan alasan yang berbeda seperti melakukan ritual keagamaan atau pun berziarah di makam Eyang Djugo dan makam Raden Mas Iman Soedjono. ( 13\/10 )<\/p>\n<div id=\"attachment_2507\" style=\"width: 426px\" class=\"wp-caption alignleft\"><a href=\"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2017\/12\/marieta.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-2507\" class=\" wp-image-2507\" src=\"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2017\/12\/marieta-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"416\" height=\"312\" srcset=\"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2017\/12\/marieta-300x225.jpg 300w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2017\/12\/marieta.jpg 640w\" sizes=\"(max-width: 416px) 100vw, 416px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-2507\" class=\"wp-caption-text\">Foto by Marieta\/HMJF<\/p><\/div>\n<p>Masyarakat yang berkunjung di pesarehan ini mempunyai tujuan yang berbeda-beda. \u201cAda yang meminta kekayaan, jabatan, jodoh dan ada juga yang datang untuk mendoakan Eyang Jugo dan R.M. Imam Soedjono,\u201c ungkap Hari Prihatin Aji ( 46 ) selaku Humas Ciamsi. Selain makam, ada beberapa wisata religi yang sering dikunjungi masyarakat seperti Ciam si, Klenteng dan pohon dewandaru yang berada di luar area pemakaman. \u201cMeskipun hanya pohon biasa tapi dipercaya bisa membawa keberuntungan bagi yang kejatuhan buahnya,\u201d lanjut pria berbaju putih itu.<\/p>\n<p>Dewandaru atau disebut juga Cerme Belanda ini berasal dari Tiongkok. Dewandaru yang\u00a0 dalam bahasa latinnya disebut <em>Eugenia Uniflora <\/em>merupakan pohon yang sangat unik. Sebab pohon ini mempunyai daun kecil-kecil yang rimbun serta buahnya yang mirip dengan buah tomat ceri berwarna merah dan daunnya memiliki banyak khasiat.\u00a0 Menurut Suparman (53 ) penjaga pusat informasi pesarehan Gunung Kawi bahwa, pohon ini dibawa oleh R.M. Iman Soedjono dalam perjalanannya mengembara ke Cina.\u00a0 Setelah pulang, pohon ini ditanam di\u00a0 lereng gunung Kawi dan sekarang pohon ini berada tepat di dekat makam R. M. Iman. Soedjono dan Eyang Jugo.<\/p>\n<p>Solihin (46) sebagai petugas Ciamsi menjelaskan bahwa menurut kepercayaan masyarakat yang berkunjung kesini bahwa pohon ini dapat membawa keberuntungan. Namun tergantung dari keyakinan atau perlambang dari masing-masing orang. Keberuntungan atau pengharapan adalah penghargaan dari Tuhan Yang Maha Esa bagi setiap umatnya yang mau bersungguh-sungguh dalam berdoa.<\/p>\n<p>Harapan dari ke tiga narasumber, para pengunjung semestinya tidak perlu begitu mempercayai keyakinan bahwa pohon dewandaru membawa keberuntungan, mereka seharusnya berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa dan lebih bekerja keras dalam mencapai rejeki yang diinginkan, karena pohon dewandaru merupakan pohon biasa yang tidak memiliki suatu hal yang bersifat mistis<strong>. (MARIETA\u00ad_HMJF)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dewandaru, Pohon Pembawa Keberuntungan Pasarehan gunung Kawi yang terletak di desa Wonosari, kabupaten Malang setiap harinya dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai tempat. Mereka mendatangi tempat ini dengan alasan yang berbeda seperti melakukan ritual keagamaan atau pun berziarah di makam Eyang Djugo dan makam Raden Mas Iman Soedjono. ( 13\/10 ) Masyarakat yang berkunjung di pesarehan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":2500,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10,2],"tags":[],"class_list":["post-2532","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-jurnalistik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2532","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2532"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2532\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2533,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2532\/revisions\/2533"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2500"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2532"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2532"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2532"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}