{"id":2540,"date":"2017-11-18T08:21:51","date_gmt":"2017-11-18T01:21:51","guid":{"rendered":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/?p=2540"},"modified":"2017-12-28T08:23:27","modified_gmt":"2017-12-28T01:23:27","slug":"ritual-ciam-si-roni-ceritoku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/?p=2540&lang=id","title":{"rendered":"Ritual Ciam Si &#8211; Roni &#8220;Ceritoku&#8221;"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><strong>Ritual Ciam Si \u00a0<\/strong><\/p>\n<div id=\"attachment_2515\" style=\"width: 416px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2017\/12\/roni.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-2515\" class=\" wp-image-2515\" src=\"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2017\/12\/roni-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"406\" height=\"270\" srcset=\"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2017\/12\/roni-300x200.jpg 300w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2017\/12\/roni-570x380.jpg 570w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2017\/12\/roni-380x254.jpg 380w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2017\/12\/roni-285x190.jpg 285w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2017\/12\/roni.jpg 640w\" sizes=\"(max-width: 406px) 100vw, 406px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-2515\" class=\"wp-caption-text\">Foto by Roni\/HMJF<\/p><\/div>\n<p>Nama Gunung Kawi sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat umum, gunung ini terletak di Jawa Timur tepatnya di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Tempat ini identik dengan wisata religinya, dimana terdapat rumah ramalan yang biasa disebut dengan Ciam Si yang diartikan sebagai pemberi petunjuk bagi mereka yang mempercayainya. Rumah ramalan ini juga merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi masyarakat Jawa Timur khususnya. (14\/10)<\/p>\n<p>Menjadi tempat referensi bagi mereka yang sering meminta petunjuk, pastinya hal ini menjadi kebiasaan tersendiri yang kerap dilakukan bagi mereka yang percaya pada ramalan Ciam Si. Solihin (49) sebagai juru kunci memapaparkan bahwa \u201cCiam Si sebenarnya berasal dari bahasa <em>Chinese<\/em> yang artinya petunjuk, bisa mengenai rejeki, jodoh ataupun usaha,\u201d ungkapnya. Banyak hal yang bisa didapat setelah melakukan ramalan ini, tergantung dari kepercayaan mereka yang melakukan ramalan tersebut.<\/p>\n<p>Selain bisa mendapatkan petunjuk, dalam proses peramalan pun tidak terlalu rumit. Ramalan ini di awali dengan mengocok berisi bilah bambu yang terdapat dalam wadah \u00a0dan terbuat dari kayu yang diukir. Hal ini juga oleh Solihin (49), \u201csebelum melakukan peramalan, seseorang harus melakukan permohonan melalui doa terlebih dahulu, dengan cara menyebutkan nama dan usia dalam hati. Kemudian mengajukan permohonan di hadapan Yang Maha Kuasa, setelah itu baru mengocok sampai ada satu bilah bambu yang jatuh ke lantai,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Jika bilah bambu yang telah dikocok jatuh ke lantai maka angka yang tertera dibilah bambu, ditunjukan kepada juru kunci yang kemudian disesuaikan dengan selembar kertas kecil yang ada di kotak ramalan. Setiap kertas tersebut, memiliki syair dan ramalan berbeda-beda dimana isi syair tersebut menggambarkan perjalanan nasib manusia. Jadi pengunjung bisa langsung mengetahui hasil dari ramalan yang telah dilakukannya. Hal ini menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung yang membuat semakin ramainya pengunjung yang mendatangi kawasan ini, tidak hanya untuk berwisata religi tetapi juga untuk yang lainnya.<\/p>\n<p>Pengunjung tidak hanya berasal dari kawasan Jawa Timur saja, tetapi dari luar kota juga banyak yang datang ke wisata religi Gunung Kawi ini. Siti Fatimah (45) salah seorang pengunjung dari Bondowoso juga menyatakan bahwa, \u201dkami datang disini bersama rombongan yang berjumlah lima puluh delapan orang, tujuan kami datang disini yakni untuk berziarah\u00a0 ke makam Eyang Djugo dan Raden Mas Iman Sudjono selain itu kami juga mengunjungi tempat Ciam Si untuk berdoa meminta berkat dan rejeki dari Yang Maha Kuasa,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Solihin (49) sebagai Juru Kunci juga berpendapat bahwa, \u201cramainya pengunjung tergantung pada hari-hari tertentu, biasanya <em>sih<\/em> pengunjung ramai itu pada saat hari besar keagamaan dan hari lainnya misalnya pada saat malam Jumat Legi. Ramalan Ciam Si ini bersifat tradisi bukan hanya untuk masyarakat Tionghoa saja melainkan bisa untuk semua agama atau kepercayaan lainnya. Setiap pengunjung yang datang disini tidak dipungut biaya, melainkan sukarela dari pengunjung,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Meskipun sering ramai pengunjung yang datang tetapi biasanya mereka membawa makanan dan perlengkapan lainnya dari luar gunung kawi, dimana itu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penghasilan warga setempat, yang membuka warung lesehan disepanjang jalan masuk Ciam Si tetapi tidak menutup kemungkinan mereka juga membeli makanan dan perlengkapan lainnya di warung lesehan milik warga. \u201cHarapan saya semoga tempat ini selalu ramai pengunjung karena merupakan salah satu sumber pencarian atau ekonomi warga disini adalah berasal dari pengunjung yang datang baik pengunjung Pasarehan maupun Ciam Si,\u201d ujar Solihin (49) Juru Kunci atau Penjaga Ciam Si. <strong>(RONI<\/strong><strong>_<\/strong><strong>HMJF)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ritual Ciam Si \u00a0 Nama Gunung Kawi sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat umum, gunung ini terletak di Jawa Timur tepatnya di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Tempat ini identik dengan wisata religinya, dimana terdapat rumah ramalan yang biasa disebut dengan Ciam Si yang diartikan sebagai pemberi petunjuk bagi mereka yang mempercayainya. Rumah ramalan ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":2514,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10,2],"tags":[],"class_list":["post-2540","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-jurnalistik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2540","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2540"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2540\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2541,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2540\/revisions\/2541"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2514"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2540"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2540"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2540"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}