{"id":3064,"date":"2019-05-25T17:00:39","date_gmt":"2019-05-25T10:00:39","guid":{"rendered":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/?p=3064"},"modified":"2020-01-30T11:58:39","modified_gmt":"2020-01-30T04:58:39","slug":"rajut-rasa-persatuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/?p=3064&lang=id","title":{"rendered":"Rajut Rasa Persatuan, BEM Unikama Gelar Parade Budaya"},"content":{"rendered":"\n<p style=\"text-align:right\" class=\"has-text-color has-small-font-size has-light-green-cyan-color\">Normal dibaca 2 menit<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter is-resized\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2019\/05\/UK__8239-2.jpg\" alt=\"Foto: Humas Unikama\" class=\"wp-image-3070\" width=\"761\" height=\"507\" srcset=\"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2019\/05\/UK__8239-2.jpg 3456w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2019\/05\/UK__8239-2-300x200.jpg 300w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2019\/05\/UK__8239-2-768x512.jpg 768w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2019\/05\/UK__8239-2-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2019\/05\/UK__8239-2-1140x760.jpg 1140w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2019\/05\/UK__8239-2-570x380.jpg 570w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2019\/05\/UK__8239-2-380x254.jpg 380w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2019\/05\/UK__8239-2-285x190.jpg 285w\" sizes=\"(max-width: 761px) 100vw, 761px\" \/><figcaption>Rektor Unikama, Pieter Sahertian (kiri) memukul gong sebagai tanda dibukanya parade budaya disebelah barat halaman rektorat Unikama (25\/5). Acara yang digagas oleh BEM sebagai perwujudan multikulturalisme ini berlangsung 25-26 Mei. <\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p><strong>MALANG<\/strong>&#8211; <strong><em>HMJF<\/em><\/strong>, Gelaran Parade Budaya yang\ndipusatkan di sebelah barat halaman rektorat Universitas Kanjuruhan Malang\n(Unikama) Jumat, (24\/5) siang, berlangsung meriah. Mengusung tema \u201cPusaka\nNusantara Dalam Daur Globalisasi\u201d, Acara ini sukses membuat mahasiswa terpukau\ndengan penampilan seni tradisional dan kreasi baru yang ditampilkan. Sebanyak\n21 organisasi daerah (orda) mahasiswa Unikama saling unjuk gigi menampilkan\nkreasi seni yang berakar dari tradisi lokal daerah mereka, mulai dari tarian\nsampai seni bela diri. <\/p>\n\n\n\n<p>Pentas\ndiawali dengan tarian dolo-dolo yang berasal dari Atambua, NTT.&nbsp; peserta melewati panggung tamu kehormatan.\nMereka menyapa dan mengajak Rektor , Wakil Rektor III dan Kepala Biro\nAdministrasi Kemahasiswaan (BAK) untuk menari&nbsp;\nbersama. Acara dibuka oleh Rektor Pieter Sahertian, dalam sambutannya,\nia mengapresiasi acara budaya yang menampilkan kekayaan tradisi dari seluruh orda\nmahasiswa.<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan\nini menjadi ajang aktualisasi dari potensi dan seni budaya yang dimiliki\nmasyarakat. \u201dSaya mendorong kegiatan budaya ini sebagai ajang promosi kampus\nUniversitas Kanjuruhan Malang,\u201d ujarnya saat membuka acara ini. Usai sambutan\nrektor, parade budaya dimeriahkan oleh perwakilan putra-putri kampus disusul\ndengan tarian khas Pulau Sumba.<\/p>\n\n\n\n<p>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\nSenada, Joice Soraya, wakil rektor III bagian kemahasiswaan juga\nmenambahkan jika parade budaya ini merupakan salah satu cara untuk\nmengembalikan citra kampus pada khalayak umum. Dengan cara membuktikan bahwa\nUnikama merupakan kampus multikultural yang berasal dari beragam daerah di\nIndonesia. \n\n\n\n<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita\nperkenalkan kepada masyarakat luas bahwa di kampus kanjuruhan bukan simbol saja\nsebagai multikultural, tetapi benar ada multikulturalnya\u201d, ujarnya saat ditemui\nawak HMJF selesai acara. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\nSementara itu, ketua pelaksana Yohanes Dedeo Benany, sekaligus\nanggota&nbsp; BEM Unikama mengatakan, sesuai\ndengan nama kabinetnya \u201cBangkit\u201d BEM kali ini ingin mengaktifkan kembali acara\nbertajuk keragaman budaya yang sempat vakum mulai tahun 2016 silam.\n\n\n\n<\/p>\n\n\n\n<p>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\u201cParade ini kan merupakan prokernya BEM, dan untuk persiapan acaranya\nsendiri cenderung kilat. Kita mempersiapkan selama satu bulan. Sedangkan untuk\npendaftaran kita gratis, dan kita juga mendapat bantuan dana dari pihak kampus.\u201d\nUngkap mahasiswa semester 6 ini.\n\n\n\n<\/p>\n\n\n\n<p>Parade\nBudaya sebagai wadah untuk menyatukan semua elemen yang ada di dalam maupun di\nluar kampus. Diharapkan dengan kegiatan ini akan meningkatkan apresiasi\nterhadap seni dan budaya. \u201dKesenian tradisioal merupakan bentuk dari multikultural,\u201d\ntambahnya. <\/p>\n\n\n\n<p>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\nIndrawati Soares &nbsp;perwakilan dari\nOrda Malaka, Kupang, &nbsp;merasa senang\ndengan adanya parade ini. \u201c Dengan adanya acara ini kita bukan hanya dapat\nmengenal budaya dari daerah lain tetapi juga dapat menumbuhkan rasa toleransi\nantar budaya sebagai wujud multikulturalisme dikampus ini \u201c, ucapnya. \n\n\n\n<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut ia berharap kegiatan ini tetap&nbsp; berlanjut setiap tahun,&nbsp; \u201c Siapapun yang menjadi BEM kedepannya &nbsp;kegiatan parade budaya seperti ini tetap di jalankan, sehingga kita dapat mengetahui dan mengenal keragamanan budaya kita\u201d, pungkasnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Reporter: Briza Millenia, Mediani Rambu<\/p>\n\n\n\n<p>Editor: Pangestu S. Budiman<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Normal dibaca 2 menit MALANG&#8211; HMJF, Gelaran Parade Budaya yang dipusatkan di sebelah barat halaman rektorat Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) Jumat, (24\/5) siang, berlangsung meriah. Mengusung tema \u201cPusaka Nusantara Dalam Daur Globalisasi\u201d, Acara ini sukses membuat mahasiswa terpukau dengan penampilan seni tradisional dan kreasi baru yang ditampilkan. Sebanyak 21 organisasi daerah (orda) mahasiswa Unikama saling [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":3061,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10,2],"tags":[],"class_list":["post-3064","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-jurnalistik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3064","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3064"}],"version-history":[{"count":18,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3064\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3086,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3064\/revisions\/3086"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3061"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3064"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3064"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3064"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}