{"id":3652,"date":"2026-06-24T17:41:25","date_gmt":"2026-06-24T10:41:25","guid":{"rendered":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/?p=3652"},"modified":"2026-06-24T17:41:27","modified_gmt":"2026-06-24T10:41:27","slug":"di-tengah-menguatnya-dolar-pedagang-pasar-gondanglegi-bertahan-hadapi-kenaikan-harga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/?p=3652&lang=id","title":{"rendered":"DI TENGAH MENGUATNYA DOLAR, PEDAGANG PASAR GONDANGLEGI BERTAHAN HADAPI KENAIKAN HARGA"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/DSC_0219-scaled.jpeg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" data-id=\"3653\" src=\"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/DSC_0219-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3653\" srcset=\"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/DSC_0219-1024x683.jpeg 1024w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/DSC_0219-300x200.jpeg 300w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/DSC_0219-768x512.jpeg 768w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/DSC_0219-1536x1025.jpeg 1536w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/DSC_0219-2048x1367.jpeg 2048w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/DSC_0219-1140x760.jpeg 1140w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/DSC_0219-570x380.jpeg 570w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/DSC_0219-380x254.jpeg 380w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/DSC_0219-285x190.jpeg 285w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p>Gerbang masuk Pasar Gondanglegi, Kabupaten Malang, Selasa (2\/6\/2026). Di tengah aktivitas perdagangan yang tetap berjalan, sejumlah pedagang mengaku mulai merasakan dampak penguatan dolar Amerika Serikat terhadap kenaikan harga barang yang mereka jual. <strong>(Iqbal\/HMJF)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>MALANG \u2014<\/strong>Di balik ramainya transaksi yang berlangsung setiap hari, para pedagang mulai menghadapi tantangan baru akibat menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Kondisi tersebut berdampak nyata pada kenaikan harga sejumlah barang yang dijual di pasar, terutama produk yang bergantung pada bahan baku maupun pasokan dari luar negeri, Selasa (18\/5\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu pedagang aksesoris di Pasar Gondanglegi, Nanik (47), mengatakan bahwa kenaikan harga mulai dirasakan pada beberapa jenis barang yang dipasok oleh distributor. Menurutnya, harga sejumlah aksesoris mengalami penyesuaian dalam beberapa bulan terakhir karena biaya pengadaan barang dari pemasok ikut meningkat. \u201cSekarang harga aksesori seperti jepit rambut, gelang, dan beberapa barang lainnya naik sedikit demi sedikit. Kata pemasok, harga dari pusat juga naik karena nilai dolar sedang tinggi,\u201d ujarnya saat ditemui di kiosnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menyikapi kondisi tersebut, Nanik menuturkan bahwa sebagian pembeli kini menjadi lebih berhati-hati dalam berbelanja dan tidak sedikit yang memilih mengurangi jumlah barang. <\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun demikian, ia tetap berusaha mempertahankan harga agar tetap terjangkau bagi masyarakat sekitar. \u201cPembeli tetap ada, tetapi kadang mereka memilih yang lebih murah atau mengurangi jumlah belanjaannya. Jadi kami juga harus pintar-pintar menyesuaikan supaya barang tetap laku,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain pedagang, dampak kenaikan harga juga dirasakan langsung oleh para pembeli yang datang ke Pasar Gondanglegi. Salah satunya adalah Siti Aisyah (34), warga setempat yang rutin berbelanja kebutuhan rumah tangga di pasar tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Siti, beberapa kebutuhan sehari-hari memang mengalami kenaikan harga dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, sehingga memengaruhi pengeluaran rumah tangganya. \u201cKalau belanja sekarang memang terasa lebih mahal dibandingkan sebelumnya. Uang yang biasanya cukup untuk membeli beberapa kebutuhan, sekarang harus lebih diperhitungkan lagi,\u201d keluhnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski demikian, Siti mengaku masih menjatuhkan pilihan untuk berbelanja di pasar tradisional karena harga yang ditawarkan relatif lebih terjangkau dibandingkan toko modern. <\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, keberadaan pedagang yang ramah dan kesempatan untuk melakukan tawar-menawar menjadi alasan tersendiri baginya untuk bertahan. \u201cKalau di pasar masih bisa pilih barang dan kadang bisa tawar harga. Jadi meskipun ada kenaikan, saya tetap lebih sering belanja di sini,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kondisi yang dirasakan pedagang dan pembeli ini menunjukkan bahwa perubahan ekonomi global tidak hanya berdampak pada pelaku usaha besar, tetapi juga dapat dirasakan hingga ke urat nadi pasar tradisional. <\/p>\n\n\n\n<p>Pasar Gondanglegi yang merupakan pusat aktivitas ekonomi masyarakat Kabupaten Malang tetap bertahan di tengah tekanan tersebut. Bagi para pedagang maupun pembeli, pasar tradisional bukan hanya tempat transaksi jual beli, tetapi juga ruang sosial yang terus hidup dan menjadi bukti bahwa perekonomian rakyat mampu bertahan menghadapi berbagai perubahan zaman. <strong>Iqbal\/HMJF<\/strong><br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gerbang masuk Pasar Gondanglegi, Kabupaten Malang, Selasa (2\/6\/2026). Di tengah aktivitas perdagangan yang tetap berjalan, sejumlah pedagang mengaku mulai merasakan dampak penguatan dolar Amerika Serikat terhadap kenaikan harga barang yang mereka jual. (Iqbal\/HMJF) MALANG \u2014Di balik ramainya transaksi yang berlangsung setiap hari, para pedagang mulai menghadapi tantangan baru akibat menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12,10,2],"tags":[],"class_list":["post-3652","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","category-berita","category-jurnalistik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3652","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3652"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3652\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3654,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3652\/revisions\/3654"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3652"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3652"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3652"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}