{"id":3658,"date":"2026-06-24T17:49:05","date_gmt":"2026-06-24T10:49:05","guid":{"rendered":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/?p=3658"},"modified":"2026-06-24T17:49:06","modified_gmt":"2026-06-24T10:49:06","slug":"pesona-destinasi-wisata-edukasi-bhakti-alam-bangkitkan-ekonomi-warga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/?p=3658&lang=id","title":{"rendered":"Pesona Destinasi Wisata Edukasi Bhakti Alam, Bangkitkan Ekonomi Warga"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/IMG_1117-scaled.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" data-id=\"3659\" src=\"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/IMG_1117-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3659\" srcset=\"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/IMG_1117-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/IMG_1117-300x200.jpg 300w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/IMG_1117-768x512.jpg 768w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/IMG_1117-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/IMG_1117-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/IMG_1117-1140x760.jpg 1140w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/IMG_1117-570x380.jpg 570w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/IMG_1117-380x254.jpg 380w, https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2026\/06\/IMG_1117-285x190.jpg 285w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p>IKON &#8211; Ikon durian di kawasan Agro Wisata Bhakti Alam di Desa Ngembal, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (17\/5\/2026). Ikon tersebut menjadi salah satu daya tarik wisata yang menawarkan rekreasi sekaligus edukasi pertanian dan peternakan bagi pengunjung. <strong>Mita\/HMJF<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>HMJF, PASURUAN<\/strong> \u2013&nbsp; Agro Wisata Bhakti Alam di Desa Ngembal, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, menawarkan perpaduan wisata alam dan edukasi pertanian yang menarik minat pelajar maupun keluarga.<\/p>\n\n\n\n<p>Beragam fasilitas rekreasi dan program pembelajaran menjadi daya tarik utama destinasi wisata tersebut.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Wahana mulai dari Rainbow Slide, kolam renang, ATV, Buggy Car, Cinema 4 Dimensi, hingga shuttle bus yang digunakan untuk berkeliling perkebunan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cUntuk program edukasi, kami menyediakan paket tanam padi, praktik perah susu sapi, pengolahan susu dan es krim, hingga edukasi perkebunan di greenhouse melon,\u201d ujar Syafa saat ditemui di lokasi, Sabtu (17\/5\/2026)<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Syafa, konsep edukasi langsung menjadi salah satu daya tarik utama Bhakti Alam..&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pengunjung tidak hanya berwisata, tetapi juga memperoleh pengetahuan mengenai pertanian dan peternakan secara langsung..<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menambahkan bahwa mayoritas pengunjung berasal dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, dan daerah sekitarnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kunjungan reguler umumnya ramai pada akhir pekan, sedangkan hari kerja lebih banyak didominasi rombongan sekolah yang mengikuti program wisata edukasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Farah Ratna Nabila (19), wisatawan asal Tutur, menilai Bhakti Alam memiliki suasana yang nyaman serta konsep wisata edukasi yang berbeda dari tempat wisata lainnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDaya tarik utama Bhakti Alam adalah suasana alamnya yang sejuk serta adanya wisata edukasi tentang perkebunan dan peternakan yang cocok untuk semua kalangan usia,\u201d ujarnya..<\/p>\n\n\n\n<p>Farah sapaan akrabnya mengatakan area kebun buah, spot foto, dan sentra kuliner menjadi lokasi favoritnya selama berkunjung.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, fasilitas yang tersedia cukup baik, lingkungan wisata terjaga kebersihannya, serta pelayanan petugas yang ramah membuat pengalaman berwisata menjadi lebih menyenangkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain memberikan pengalaman rekreasi bagi wisatawan, keberadaan Bhakti Alam juga membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar.<\/p>\n\n\n\n<p>Naylatus Sholikhah (18), warga Desa Ngembal, mengungkapkan bahwa perkembangan wisata tersebut turut menggerakkan perekonomian desa.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKehadiran tempat wisata ini membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar,&#8221; terang Naylatus Sholikhah.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Banyak yang kini bekerja sebagai pemandu wisata, petugas kebersihan, penjaga parkir, hingga membuka usaha kuliner dan toko oleh-oleh di sekitar kawasan,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menuturkan bahwa kawasan wisata biasanya ramai dikunjungi pada akhir pekan dan hari libur nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, keberadaan Bhakti Alam juga membuat Desa Ngembal semakin dikenal oleh masyarakat luar serta membuka peluang usaha bagi warga setempat.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Jadinya sekarang banyak yang kenal Bhakti Alam karena banyak wisatawan dari luar,&#8221; tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan konsep wisata edukasi yang memadukan rekreasi, pertanian, dan peternakan, Bhakti Alam tidak hanya menjadi destinasi wisata bagi masyarakat. <strong>Mita\/HMJF<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>IKON &#8211; Ikon durian di kawasan Agro Wisata Bhakti Alam di Desa Ngembal, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (17\/5\/2026). Ikon tersebut menjadi salah satu daya tarik wisata yang menawarkan rekreasi sekaligus edukasi pertanian dan peternakan bagi pengunjung. Mita\/HMJF HMJF, PASURUAN \u2013&nbsp; Agro Wisata Bhakti Alam di Desa Ngembal, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, menawarkan perpaduan wisata [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12,10,2],"tags":[],"class_list":["post-3658","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","category-berita","category-jurnalistik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3658","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3658"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3658\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3660,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3658\/revisions\/3660"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3658"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3658"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3658"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}