{"id":778,"date":"2015-10-04T22:17:07","date_gmt":"2015-10-04T15:17:07","guid":{"rendered":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/?p=778"},"modified":"2015-10-12T11:00:55","modified_gmt":"2015-10-12T04:00:55","slug":"kompilasi-karya-jurnalistik-hunting-besar-2015-hikayat-tanah-garam-6","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/?p=778&lang=id","title":{"rendered":"KARYA JURNALISTIK HUNTING BESAR 2015 \u201cHIKAYAT TANAH GARAM\u201d"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><strong>PENGHASILAN RENDAH, PENDIDIKAN TERANCAM<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left\">\nHMJF \u2013 Apa yang terbersit dalam pikiran anda tentang buruh? Pesuruh, bawahan di pabrik \u2013 pabrik maupun perusahaan besar dan kecil. Ternyata tak hanya itu, petani juga memiliki buruh. Masalah yang dihadapi juga memiliki kesamaan, yaitu gaji yang dirasa kurang. Salah satunya, petani garam yang ada di Sampang, Madura.<br \/>\nTambak garam di Sampang dimiliki oleh PT Garam serta lahan milik pribadi, dengan upah buruh Rp. 350,-\/kg. Rata \u2013 rata penghasilan buruh perminggu sebesar Rp. 70.000,- hingga Rp. 100.000,-.Dengan kenyataan tersebut, apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup satu keluarga ditengah harga rupiah melonjak? Tentu saja tidak. Mereka hanya bisa pasrah dalam menghadapi permasalahan tersebut, karena tak memiliki skill selain menjadi buruh garam.<\/p>\n<p style=\"text-align: left\">\nSeperti yang dituturkan oleh Subaidi (56), salah satu buruh petani garam dilahan pribadi milik masyarakat setempat. Ia harus menghidupi dua orang anaknya yang masih bersekolah di SD dan SMP bersama dengan istrinya. \u201cPenghasilan saya seminggu sebesar Rp. 70.000,-, jadi kalo ditotal ya sekitar Rp. 280.000,- sebulannya.\u201d Menurut pria asal dusun Plasa desa Pengarengan ini, dengan penghasilan yang rendah tersebut masih dapat memenuhi kebutuhan sehari \u2013 hari, akan tetapi untuk memenuhi kebutuhan sekolah kadang kurang. Kekurangan tersebut dapat ditutupi dengan pinjaman dari tetangga.<\/p>\n<p style=\"text-align: left\">\nSelain itu, anak dari petani garampun ikut membantu orang tuanya dengan cara menjadi pengangkut garam. Biasanya pekerjaan itu dilakukan setelah mereka pulang dari sekolah dengan berjalan kaki. Walaupun demikian, minat belajar mereka tetap tinggi. Seperti yang diungkapkan oleh fitri (10), cita \u2013 cita ku ingin jadi dokter.<br \/>\nNasib anak buruh petani garampun semakin memprihatinkan. Rata \u2013 rata pendidikan mereka hanya sampai SMP, selanjutnya mereka meneruskan pekerjaan orang tuanya. Tak hanya masalah tersebut saja yang dihadapi, sekolah yang tidak tetappun sudah biasa mereka alami. \u201cSaya sekolah pindah \u2013 pindah, tergantung orang tua saya bekerja didaerah mana,\u201d ujar Silfiana (11) yang duduk di kelas empat SD tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left\">\nTak berbeda jauh dengan buruh petani sebelumnya, Sahani (40) mendapatkan penghasilan sebesar Rp 575.000,- perbulannya dengan menghidupi dua orang anak yang masih bersekolah di SD. Wanita asal Tlangu, Sumenep ini juga merasa kurang dengan penghasilannya yang tidak seberapa. \u201cSaya mengharapkan pekerjaan yang lebih layak dari pada ini, tapi saya juga takut mau cari pekerjaan lain karena sudah dikontrak.\u201d <strong>(Desy\/HMJF)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PENGHASILAN RENDAH, PENDIDIKAN TERANCAM HMJF \u2013 Apa yang terbersit dalam pikiran anda tentang buruh? Pesuruh, bawahan di pabrik \u2013 pabrik maupun perusahaan besar dan kecil. Ternyata tak hanya itu, petani juga memiliki buruh. Masalah yang dihadapi juga memiliki kesamaan, yaitu gaji yang dirasa kurang. Salah satunya, petani garam yang ada di Sampang, Madura. Tambak garam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":779,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10,2],"tags":[],"class_list":["post-778","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-jurnalistik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/778","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=778"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/778\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":834,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/778\/revisions\/834"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/779"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=778"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=778"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmjf.unikama.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=778"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}