Batik Tulis Sengguruh Konsisten Wujudkan Kearifan Lokal Malang

Perajin batik melakukan teknik membatik menggunakan alat canting secara tradisional untuk menciptakan corak dengan mengoleskan lilin (malam) di Griya Batik Desa Sengguruh (26/01/2026). (Davin/HMJF)

MALANG – Kreasi batik yang telah menjadi landasan kearifan lokal budaya Indonesia selama turun-temurun terus berkembang di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.

 Pada Senin (26/01/2026), para perajin batik dengan cermat menciptakan berbagai corak batik yang beragam menggunakan alat tradisional yakni canting atau teknik batik tulis.

Meskipun di era modern yang semakin berkembang, para perajin tetap mempertahankan metode pembuatan batik secara manual yang telah diwariskan sejak zaman dahulu.

Evi (40), salah satu seorang perajin menjelaskan meski batik dibuat secara tradisional, Ia tidak melepas begitu saja dengan teknologi modern.

Dirinya menggunakan media sosial untuk berjualan dan memperkenalkan batik asli Kabupaten Malang itu.

 “Dari segi memperkenalkan batik itu tidak bisa secara langsung, melainkan melalui konten media sosial, sehingga banyak yang melihat dan tertarik dengan kesenian batik itu seperti apa,” ujar Evi.

 Wanita berhijab yang telah berkecimpung dalam industri batik selama 8 tahun dan sekaligus pemilik serta pengelola Griya Batik di Sengguruh menambahkan jika banyak pelajar yang juga berkunjung di gerai miliknya.

 “Kita juga mengadakan atau membuka kunjungan gratis untuk para siswa mulai dari TK, SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi yang ingin belajar batik dan kita beri sosialisasi,” tambahnya.

Dirinya merupakan generasi pertama atau perintis usaha Griya Batik Sengguruh sejak tahun 2017. Awal mula fondasi griya batik ini dibangun secara bertahap melalui serangkaian pelatihan.

Evi bilang bahwa pelatihan membatik ini memperoleh dukungan untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) atau tanggung jawab sosial perusahaan yang diberi oleh PLN Nusantara Power yang sebelumnya dikenal dengan nama PJB (Pembangkitan Jawa Bali). 

“Karena wilayah Sengguruh berada di wilayah kategori Ring 1 dari PJB, kita dapat mengajukan pemberdayaan masyarakat di kegiatan membatik, nah itu disetujui dan dapat memulai atau mengadakan pelatihan membatik,” ungkapnya.

Griya batik ini juga membuka pelatihan membatik bagi masyarakat secara umum yang ingin belajar membatik mulai dari nol, sehingga masyarakat akan tahu betapa pentingnya batik sebagai bagian dari nilai kearifan lokal. 

“Terkadang ada beberapa masyarakat menyebutnya adalah ‘Griya batik Seng’ namun istilah nama ‘Seng’ sendiri diambil dari nama desa yaitu Sengguruh, Sehingga industri Griya Batik ini dinamai ‘Griya Batik Seng,” Tutur Evi.

Menurutnya, Desa Sengguruh dijuluki sebagai kampung batik mungkin akan lebih sesuai atau cocok asalkan dapat dipertanggungjawabkan kredibilitasnya oleh pihak luar.  “Tapi, mimpi kami semoga kampung ini dapat dijuluki sebagai kampung batik,” harapannya. 

Evi menjelaskan bahwa dalam proses pembuatan dan produksi batik terdapat berbagai tantangan yang dihadapi sepeti cuaca yang tidak menentu.

“Tantangan yang dihadapi kalau dari alam itu cuaca yang tidak menentu, jadi kalau cuacanya hujan memang cenderung produksi batik menjadi menurun, karena hujan mempengaruhi proses perwanaan,” katanya. 

“Selain itu, kualitas SDM juga mempengaruhi dalam produksi batik, karena kami memang bukan dari generasi pewaris, jadi benar-benar harus lebih effort lagi untuk menjadi pengrajin dari pelatihan ke pelatihan dan harus terus belajar,” tambahnya. 

Evi menambahkan dari segi pemasaran, produknya harus bersaing dengan produk-produk dari pengrajin yang berasal dari generasi pewaris yang sudah senior, baik dari segi kualitas atau kuantitas.

Tidak hanya itu, kendala lain yakni masuknya batik impor dari luar negeri ke Indonesia dengan menggunakan teknik printing yang lebih modern yang berkembang pesat kini menjadi tantangan besar bagi produsen batik tulis. 

“Dengan adanya teknologi batik printing di era saat ini cukup menimbulkan hambatan kami dalam memproduksi batik tulis yang masih tradisional dan harus dapat bersaing,” ungkap Evi. 

“Alasan kami menggunakan teknik batik tulis karena ingin mempertahankan warisan budaya Indonesia dan identitas lokal yang telah diwariskan secara turun temurun, meskipun biaya produksi batik tulis lebih tinggi,” tambahnya.

Selain menjaga keaslian nilai budaya, batik tulis juga memberi ruang bagi perajin untuk menuangkan detail, ketelitian, dan cerita di balik setiap goresan canting. 

Etik (45) salah satu pekerja di Griya Batik Sengguruh mengatakan, bahwa batik tulis memberikan nilai efisiensi yang tidak bisa diberikan oleh batik printing. 

 “Batik tulis bukan hanya soal keuntungan, tetapi tentang melestarikan tradisi,” ujar Etik. 

Meskipun batik printing menawarkan kemudahan dan efisiensi dalam produksi, teknik batik tulis tetap memiliki tempat yang penting di hati para perajin dan konsumen yang menghargai keunikan, kualitas, dan nilai seni dalam setiap karya. Dalam setiap corak batik memiliki keunikan dan ciri khas yang memukau.

Menurut Etik, corak batik yang menjadi ciri khas dan terkenal saat ini di Griya Batik Sengguruh adalah perpaduan kombinasi corak Garudeya dan corak Muntualan. 

“Sebelum corak Garudeya dan Muntualan, kami membuat corak teratai, ikan, arema dan swanapada. setiap corak memiliki makna atau filosofi tersendiri,” terang Etik.

“Jadi setiap lembar kain terdapat filosofinya misalnya ikan mencerminkan wilayah pantai selatan, corak Garudia menceritakan pengorbanan anak kepada ibunya dan juga ornamen yang ada di Candi Kidal, corak Muntualan mencerminkan kerhamonisan corak Teratai mencerminkan keanggunan dan kemuliaan, corak Arema melambangkan semangat dan kepadanan, corak Swanapada menceritakan setiap manusia itu harus ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa,” jelasnya.

Jenis kain yang digunakan dalam pembuatan batik cukup beragam, ada yang menggunakan kain katun prima, kain katun primissima, kain katun jepang, kain sutra, kain sutra baron, kain dobi dan kain rayon. 

“Pastinya kain yang digunakan rasanya dingin dan nyaman dipakai,” tambahnya.

Melalui upaya pelatihan bagi generasi muda, Griya Batik Sengguruh terus berinovasi dalam melestarikan teknik batik tulis sebagai warisan budaya yang tak ternilai.

 Meskipun menghadapi berbagai tantangan dari arus modern, baik dari segi persaingan teknologi dengan batik printing maupun munculnya batik impor dari luar negeri, semangat para pengrajin batik di Sengguruh tetap terjaga. 

Mereka berharap agar Sengguruh dapat menjadi kampung batik yang diakui secara nasional. Tidak hanya menjaga keaslian, tetapi juga terus berusaha menjaga kearifan lokal melalui kreasi batik tulis yang kaya akan filosofi. (Davin/HMJF)

Naskah ini merupakan karya pameran pasca Pendidikan Abr HMJF

About the Author: hmjfunikama

HMJF merupakan salah satu UKM yang ada di Universitas Kanjuruhan Malang. Berdiri sejak 10 Juni 1989. HMJF berkecimpung dibidang Fotografi dan Jurnalistik. Sebuah tempat untuk membentuk karkater, kepribadian dan pengembangan bakat, minat, serta kreativitas.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *