Di Balik Tumpukan Buku Murah, Pasar Buku Wilis Masih Bertahan

Penjual buku menata dagangannya di Pasar Buku Wilis, Kota Malang, Sabtu (03/01). Pasar ini masih menjadi ruang alternatif bagi pelajar dan mahasiswa untuk mendapatkan buku dengan harga terjangkau.

MALANG -Di tengah maraknya toko buku daring dan peralihan kebiasaan membaca ke platform digital, Pasar Buku Wilis di Kota Malang masih bertahan sebagai ruang berburu buku fisik dengan harga terjangkau. Meski jumlah pengunjung tidak lagi seramai sebelumnya, pasar ini tetap hidup melalui interaksi langsung antara penjual dan pembeli, serta praktik tawar-menawar yang tidak ditemui di pasar online. Keunikan inilah yang membuat Pasar Buku Wilis masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

Salah satu penjual yang masih bertahan adalah Yanti (47), pemilik Toko Buku Sahabat. Ia telah berjualan buku sejak Pasar Buku Wilis masih menyatu dengan Pasar Splendid dan menempati lokasi saat ini sejak tahun 2003. Bersama suaminya, Yanti membuka lapak setiap hari dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. “Saya sudah berjualan di sini sejak Pasar Buku Wilis masih menyatu dengan Pasar Splendid,” ujar Yanti.

Di tokonya, Yanti menjual berbagai jenis buku seperti novel, komik, buku sejarah, hingga buku pendidikan. Buku-buku tersebut sebagian besar merupakan buku bekas layak baca yang diperoleh dari masyarakat. Harga buku yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp.25.000 hingga jutaan rupiah, tergantung jenis dan kondisi buku. Namun, kondisi pasar yang kini relatif sepi membuatnya memilih fokus menjual buku dengan harga terjangkau agar tetap diminati pembeli.

Dari sisi pembeli lama, Munah (29), warga asal Blitar, mengaku kini lebih memilih membeli buku secara daring. Menurutnya, pasar online menawarkan kemudahan karena harga yang terjangkau dan tidak memerlukan interaksi langsung. “Saya merasa lebih enak beli buku secara online karena harganya murah, tidak perlu jauh-jauh ke Pasar Wilis, dan tidak perlu repot tawar-menawar dengan penjual,” katanya. Meski begitu, Munah mengakui bahwa Pasar Buku Wilis kini terlihat lebih rapi dan tertata dibandingkan sebelumnya.

Sementara itu, Arjuna (20), seorang mahasiswa yang masih aktif membeli buku di Pasar Buku Wilis, menilai pasar ini tetap layak disebut sebagai surga buku murah. Ia menyebut harga buku di pasar jauh lebih terjangkau dibandingkan toko daring, serta memberi kesempatan bagi pembeli untuk berinteraksi langsung dengan penjual. “Menurut saya Pasar Buku Wilis masih layak disebut surga buku murah karena harganya terjangkau dan bisa ditawar,” ujarnya. (Raffael/HMJF)

Naskah ini merupakan karya pameran pasca diksar XXXVII HMJF yang telah di sunting kembali untuk kebutuhan
laman resmi hmjf.

About the Author: hmjfunikama

HMJF merupakan salah satu UKM yang ada di Universitas Kanjuruhan Malang. Berdiri sejak 10 Juni 1989. HMJF berkecimpung dibidang Fotografi dan Jurnalistik. Sebuah tempat untuk membentuk karkater, kepribadian dan pengembangan bakat, minat, serta kreativitas.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *