.
Warga beraktivitas di sepanjang jalur rel kereta api di kawasan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, pada siang hari.
MALANG – Kehidupan warga di sekitar rel kereta api di wilayah Sukun, kota Malang, diwarnai oleh rutinitas yang penuh risiko namun telah menjadi kebiasaan selama puluhan tahun. Setiap harinya, setidaknya 28 kereta melintas di jalur tersebut, membawa dampak suara dan getaran yang dirasakan langsung oleh penduduk lokal.
Nino (51)warga sekitar rel kereta api mengatakan “ 1 tahun kemarin terjadi kecelakaan bunuh diri pada malam hari di rel kereta dan kecelakaan orang tuli yang tersrempet kereta api waktu sebelum ada perlintasan pada 5 tahun yang lalu dan masih bisa diselamatkan,warga memilih untuk tetap tinggal karena merasa nyaman dengan aksesibilitas dan aktivitas harian mereka” ujarnya.
Iwan (49), seorang relawan penjaga perlintasan, memastikan keamanan di lokasi tersebut sejauh ini aman dengan memantau anak-anak yang sering bermain di pinggir rel, sambil berharap adanya pagar pengaman dan kesadaran untuk berhati-hati, iwan juga menambahkan bahwa dalam satu hari kereta api dapat melintas hingga puluhan kali.Aktivitas tersebut berdampak langsung pada warga yang tinggal di sekitaran rel kereta api,terutama dari sisi keamanan dan kenyamanan.
“Dari dulu memang sudah banyak warga yang tinggal dekat rel. Risiko selalu ada, apalagi pernah terjadi kecelakaan,” ujar Iwan. Ia menyebutkan, beberapa insiden pernah terjadi, mulai dari orang tersambar kereta hingga korban luka berat yang menyebabkan cacat permanen.Meski demikian, Iwan menilai kondisi di sekitar rel kereta sukun saat ini relatif lebih aman dibandingkan sebelumnya. Hal itu karena adanya petugas penjaga lintasan serta meningkatnya kesadaran warga. “Kalau dilihat sekarang warga sudah lebih berhati-hati dan petugas penjaga perlintasan kereta api juga selalu berjaga” tambahnya. Pernyataan serupa yang disampaikan oleh Nino(51),warga lokal yang sejak kecil menetap di sekitar rel kereta menyatakan telah terbiasa dengan suara dan getaran yang ditimbulkan kereta api setiap kali melintas.
“Awalnya kaget dan tidak nyaman, tapi lama-lama terbiasa,” tuturnya.Nino juga mengatakan bahwa sebagian besar warga menggantungkan hidupnya di sekitar rel, baik sebagai pedagang maupun pekerja informal. Meski menyadari bahaya, mereka tetap bertahan karena keterbatasan ekonomi dan sudah merasa lingkungan tersebut sebagai rumah.Namun, kekhawatiran tetap ada, terutama bagi anak-anak yang sering bermain di sekitar rel. “Anak-anak sebenarnya sering diperingatkan, tapi tetap harus diawasi orang tua,” jelasnya.
Kawasan rel kereta api sukun masih menjadi wilayah rawan kecelakaan,meski kondisi keamanan dinilai semakin membaik.Kehadiran petugas,kesadaraan warga,serta pengawasan orang tua menjadi faktor penting dalam meminimalisir resiko.Warga berharap ke depan ada perhatian lebih dari pihak terkait,baik dalam bentuk pengamanan tambahan maupun solusi permukaan yang lebih aman bagi masyarakat yang tinggal di sekitaran rel kereta api. (Esni/HMJF)
Naskah ini merupakan karya pameran pasca diksar XXXVII HMJF yang telah di sunting kembali untuk kebutuhanlaman resmi hmjf.