KARYA JURNALISTIK HUNTING BESAR 2015 “HIKAYAT TANAH GARAM”

Haji Taufik, Perintis sekaligus Direktur Perusahaan Penggaraman

Hidup di dunia harus dijalani dengan penuh semangat. Kerja keras dan tekun memang harus dilakukan, namun harus tetap di jalan Sang Kuasa. Usaha yang tak kenal lelah dengan mengerahkan semua tenaga, pikiran, waktu, dan materi, membuahkan hasil yang manis. Seperti halnya dengan H. Taufik Hidayatullah. Pria yang lahir 63 tahun lalu ini ialah seorang pedagang garam terbesar di Desa Pengarengan, Kecamatan Sampang, Madura.
Dimulai dengan bersekolah di Pendidikan Madrasah Wajib Belajar setingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs), kemudian melanjutkan di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) selama enam tahun di Sampang. Setelah lulus pada tahun 1972, ia menjadi guru agama di Kecamatan Bangkalan pada tahun 1978. Ia ditempatkan di Kabupaten Bangkalan sekaligus menjadi guru ikatan dinas, namun pada akhirnya ia mengundurkan diri.
Ia mengundurkan diri karena setelah pengangkatan ia tidak ditempatkan di tanah kelahiran, yakni di Desa Pengarengan Kecamatan Sampang Kabupaten Madura. Ia bercerita pada masa pengangkatannya mengalami kesusahan ketika mengundurkan diri, karena pendidikan selama enam tahun merupakan program pendidikan yang langsung mengajar dan pengangkatan yang penempatannya dipilih oleh PGAN.
Dari keputusan pengunduran diri mengajar, ia memilih kembali ke tanah kelahiran dan memilih pekerjaan sebagai pengusaha garam. Memulai karir sebagai pengusaha garam hanya bermodalkan beberapa petak lahan warisan dari mertuanya dan meminjam dana dari beberapa pengusaha garam, seperti Perum Garam yang sekarang menjadi PT Garam.
Puluhan tahun ia mengerjakan lahannya, dan hasilnya dijual tapi untung yang didapat tidak seberapa. Setiap panen, Haji Taufik tidak langsung menjual semua hasil panen, melainkan menimbun sebagian garam.
Pada akhirnya, sejak tahun 1998 hingga 2000, hasil penjualan garamnya meningkat sangat besar. Hal ini terjadi karena pada tahun tersebut, terjadi masa paceklik garam akibat musim hujan yang tinggi di Madura. Pada penjualan biasanya hanya 50 ribu hingga 100 ribu per ton, pada masa paceklik tersebut menjadi 600 ribu per ton. Dari hasil itulah Haji Taufik bisa membeli berhektar lahan pembuatan garam di tanah kelahirannya. “Entah itu keberuntungan atau apa, tapi Alhamdulillah hasil usaha saya sangat meningkat drastis,” ungkapnya yang sering disapa Haji Taufik tersebut.
Selain menggunakan tambak garam sendiri, Haji Taufik juga menyewa tambak seluas sembilan hektar. Harga sewa tambak tersebut 115 juta per 5 ton tiap tahunnya. Tambak yang disewa Haji Taufik memiliki jangka waktu yang berbeda, ada yang lima tahun bahkan 10 tahun lamanya.
Haji Taufik merupakan pemilik tambak terluas di daerah Pengarengan, karena rata-rata petani garam yang berpendapatan tinggi hanya memiliki satu hektar tambak garam. Dengan adanya tambak yang luas, Haji Taufik berhasil mendirikan sebuah Perseroan Terbatas (PT) di Desa Pengarengan yang mengelola garam, yaitu PT Jaya Makmur Utama. Haji Taufik selaku perintis sekaligus Direktur PT. Jaya Makmur Utama memiliki 18 orang perempuan sebagai pekerja lapangan, 36 laki-laki pekerja gudang, serta 20 orang laki-laki yang bekerja di lahan dengan setiap pekerja memegang 1,5 hektar.
PT. Jaya Makmur Utama yang menjadi satu-satunya perusahaan yang berlabel PT. dan dikelola oleh Haji Taufik dan merupakan PT. Pengelola garam selain PT. Garam yang merupakan PT. milik negara, sedangkan di Desa Pengarengan ini masih terdapat 5 Comanditaire Venotschap (CV) atau Persekutuan Komanditer yang bergerak di bidang garam. PT. yang dimiliki Haji Taufik tersebut memiliki 6 gudang yang terdiri dari tiga gudang penyimpanan, dua gudang penggilingan dan satu gudang pengepakan.
Stok garam tidak hanya dari hasil panen milik ladang tambak garam sendiri, tapi Haji Taufik juga bekerjasama dengan petani-petani Garam Rakyat maupun dari PT. Garam sendiri. Dari stok garam yang sudah dikirim melalui kapal ataupun truk dari luar maupun dalam perusahaan, garam dihitung oleh Sudi (50) selaku pegawai administrasi pemasukan garam (mandor) sebelum masuk ke dalam gudang penyimpanan. Selain Sudi, terdapat pegawai administrasi pengeluaran garam (mandor) ya
Garam hasil pengolahan perusahaan Haji Taufik berlabel “Garam Madura Indah” dijual seharga 5.500 rupiah per balnya yang berisi 20 bungkus sebesar tiga ons.

Selain memproduksi Garam Madura Indah, Haji Taufik mengirim garam dasarnya ke beberapa perusahaan besar di Surabaya sebagai bentuk kerjasama dengan perusahaan lain.
Selain perusahaan pengolahan garam, Haji Taufik memiliki sebuah toko apotek yang dikelola oleh putrinya dan juga memiliki usaha kontraktor. Bapak yang memiliki tiga putri dan satu putra ini memiliki kepribadian yang tegas dan pantang menyerah sehingga menjadi orang nomor satu di Pengarengan yang sukses dalam bidang perdagangan dan pengusaha.

Meski usianya sudah lebih dari setengah abad, ia tetap memimpin perusahaan dengan benar dan tanpa lelah hingga menjadi perusahaan garam sukses yang nantinya akan dikelola oleh putranya. Semoga usaha keras Haji Taufik akan tetap berjaya hingga saatnya. Maka dari itu, tak ada manusia yang gagal jika mau berusaha menjadi lebih baik meskipun harus dimulai dari nol seperti yang telah dilakukan oleh Haji Taufik. “Jangan pernah mengenal lelah untuk menjadi seorang yang sukses, meski melalui jalan yang tak sama seperti saya, yakni tidak harus menjadi seorang pedagang garam seperti saya,” tutup Haji Taufik. (Emond A` HMJF)

About the Author: hmjfunikama

HMJF merupakan salah satu UKM yang ada di Universitas Kanjuruhan Malang. Berdiri sejak 10 Juni 1989. HMJF berkecimpung dibidang Fotografi dan Jurnalistik. Sebuah tempat untuk membentuk karkater, kepribadian dan pengembangan bakat, minat, serta kreativitas.